Friday, April 28, 2006

Kompas Gramedia Fair 2006

Dicuplik dari kompas.com :
Kelompok Kompas Gramedia kembali akan menggelar Kompas Gramedia Fair bersama BNI Tapenas pada 3-7 Mei 2006 pukul 09.00-21.00 di Istora Gelora Bung Karno (Senayan), Jakarta. Acara ini juga akan dimeriahkan, antara lain, oleh lomba paduan suara tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar se-Jabodetabek: "Ayo Menyanyi", seminar, talkshow, jumpa pengarang, lomba menggambar dan mewarnai, serta lomba-lomba lainnya. Ada pula kesempatan untuk mengikuti undian Meraup Buku Sepuasnya dan grand prizes sebuah mobil.

Dicuplik dari kiosbuku.blogspot.com :
Pameran buku terbesar dari Kelompok Kompas Gramedia.
Istora Gelora Bung Karno, 3 -7 Mei 2006.
Diskon 20-70%.
Dimeriahkan dengan berbagai acara seminar, workshop, launching, temu penulis, lomba menyanyi untuk SD.
Khusus pemegang kartu kredit BNI, dapatkan diskon 10%.
Hadiah utama : 1 mobil dari KIA.

Buat penggemar buku tentu event ini patut dicatat dan diagendakan, terutama pembaca pemula seperti aku ini. 4 hari lagi sebelum hari H. Semoga kang Henry sudah hilang capeknya dari Paris, jadi ada teman dari kantor tuk ngabur :D

Mama, ... jangan cemberut ya kalau tumpukan buku dikamar semakin menggunung :)

Thursday, April 27, 2006

Besar Tapi Tak Mampu

Disuatu rutinitas makan siang staff-staff ada topik yang seru. Topik yang seru diantaranya keburukan atasan, gaji yang kurang, kebijakan-kebijakan perusahaan yang tidak menguntungkan, koordinasi antar bagian yang kacau, main lempar kerjaan, dan jilat-menjilat oknum dalam mengejar jabatan. Kami tidak membicarakan topik diatas, tapi masih nyerempet dikitlah. Temanya perusahaan kami dimata rekanan.

Semua sudah tahu perusahaan tempatku bekerja merupakan peruhaan terbesar dibidangnya (?), tak henti-hentinya majalah mengulas laba bersih perusahaan yang tahun lalu tak kurang dari 5T. Setiap tahun penghargaan diganjar untuk produk-produk yang ditawarkan. Secara umum imej yang terbentuk wah lah. Cap maut, top markotop deh.

Tetapi tidak di obrolan siang itu. Seandainya ada rekanan yang ikut nimbrung pasti malu kami sebagai karyawan. Ternyata perusahaanku di blacklist oleh beberapa agen perjalan. Pasalnya perusahaan sering menunggak pembayaran tiket pesawat untuk karyawan yang dinas luar kota. Nah lo! Kami yang tidak mengurusi administrasi seperti itu tentu hanya tak habis pikir, bagaimana bisa perusahaan berpenghasilan bersih triliyunan rupiah bisa menunggak pembayaran. Kalau telatnya satu dua hari mungkin tidak akan di daftarhitamkan. Katanya bisa berbulan-bulan tak bayar.

Siapa yang patut disalahkan? Dalam hal ini tiket diurus oleh General Affair. Bagian Umum begitulah kami menyebut, sering disingkat Bagum. Ada apa dengan Bagum?

Gosipnya, uang untuk pembayaran-pembayaran ke rekanan dibungakan dulu lewat deposito. Hmm, belum ada konfirmasi soal itu. Yang jelas malu aja ... besar tapi tak mampu.

Jadi buat rekananan (apapun bidangnya) yang mau bekerjasama dengan perusahaanku harus menyiapkan modal ekstra buesssar. Ada yang berminat?

PUSH PUSH ... PUSH

Istilah push dikantor sudah sangat akrab di telinga. Push samadengan tekan. Tekan terus sampai masalah yang dihadapi terselesaikan (siapa yang ditekan?), kalau perlu (mungkin) dengan tutup mata dan telinga.

Baru saja seorang rekan mengirimi aku email, isinya memberitahuku soal push, push, dan push. Di email tersebut dia ingin memberitahukan seorang vendor yang kecewa dengan attitude atasan (atasanku dan rekanku), dan keberatan itu dia sampaikan langsung ke yang bersangkutan. Tidak ngerundel dibelakang, sebuah sikap elegan. Wah, cukup nyengir aja membaca imel tersebut. Dia 'menanyakan' kata-kata si bos di email yang cenderung memojokkan dengan menyebut dia harus lebih serius dengan kerjaannya.

Inti masalah aku lihat sebenarnya dari audit. Audit mempunyai langkah bagus untuk membuat sistem/aplikasi yang aman, sehingga perbaikan-perbaikan perlu dilakukan. Dan memang itulah kerja audit. Nah, dari situ audit terus menekan divisiku untuk segera mengimplementasi rekomendai-rekomendasi dia. Sekali lagi, push push push. Aku ragu apakah tenggat waktu yang diberikan audit sudah memperhitungkan analisa-analisa konsdiri riil di lapangan. Maksudku, jangan sampai audit hanya pukul rata, semua harus selesai besok.

Si bos yang takut dicap tidak kompeten terus menekan vendor. Vendor sebagai pembuat sistem/aplikasi harus menganalisa dengan teamnya apakah rekomendasi tersebut ada akibat fatal dengan aplikasi yang sudah berjalan. Jika iya, vendor harus berpikir untuk memperbarui aplikasi mereka. Ini yang tidak bisa secepat kilat begitu saja selesai. Vendor harus melakukan analisa-analisa mendalam, test sebelum melempar patch ke operator. Belum lagi jika perbaikan ini mengharuskan operator membayar. Ah, lebih panjang lagi urusan. Yang memperparah kondisi, sebelum audit datang si vendor sudah melakukan beberapa perbaikan versi dia untuk memperbaiki perfoma sistem/aplikasinya. Tentu perbaikan yang dia lakukan tidak mudah. Nah, tiba-tiba datang audit memberi masukan-masukan yang wajib dilaksanakan. Tentu mereka agak kalang kabut karena ada beberapa perombakan yang agaknya bertentangan dengan yang sudah diimplementasikan sebelumnya.

Tidak ada maksud membela siapapun disini. Aku sebagai kuli yang bekerja mengurusi hal-hal teknis sering mengalami hal serupa. Apa mereka yang menekan itu tidak tahu sulitnya membuat atau memodifikasi sebuah sistem/aplikasi? Teringat lagunya Serieus, Roker Juga Manusia. Aku ubah aja judulnya, kuli IT juga manusia, hahahaha.

Buat rekan-rekan yang sering mengalami 'penindasan' atasan, ... nasib kuli emang seperti itu, jadi sabar saja :p


- masih kuli-kuli juga -

Wednesday, April 26, 2006

[FOTO] Antri di Dufan

Lebaran tahun lalu, aku memboyong ortu dan adik ke Jakarta. Maklum, saat itu Kintan masih berumur 1 bulan sehingga yang mudik ortu saja. Untuk mengisi liburan, aku mengajak kedua adikku ke Sea World dan Dufan. Di Sea World kami bisa menikmati, apalagi ada acara memberi makan ikan di akuarium besarnya. Nah, di Dufan yang apes. Sudah tiket masuk yang mahal, cuma bisa mencoba wahana arum jeram saja. Itupun harus rela berdiri berjam-jam. Tapi bagi adikku, kapan lagi. Lagian bisa buat bahan cerita di kampung nanti. Pikir-pikir, pasti gede penghasilan Dufan. Andai saja, pemkot-pemkot kota besar di Indonesia membuat tempat bermain seperti Dufan alangkah seru. Orang-orang dari luar Jakarta tak perlu lagi berduyun-duyun ke Jakarta hanya untuk menikmati Dufan yang sudah suesaak. Dan juga penghasilan yang mungkin bisa menjadi kas daerah tidak lari ke Jakarta. Yang kaya semakin kaya saja, yang miskin? ...

Udah ah, jadi ngelantur kemana-mana. Balik ke liburan ke Dufan tadi. Kami harus antri luama untuk menikmati permainan yang tak lebih dari 5 menit. Daripada saya melamun jorok lebih baik membuat dokumentasi, ... ya seperti foto-foto dibawah ini. Selamat menikmati!

Adikku, Geri (kanan) dan Maman.


Hari sudah sore, antrian masih panjang.


Capek? Bisa sambil lesehan.


Saat menunggu juga romantis.


30 menit lagi.


Mumpung bisa bersandar.


Batas tinggi minimal.


Tidak menerima penitipan barang dan anak.


Masih harus berputar lagi.


Sebentar lagi giliran kami!


Go go go!!!

Basah kuyup.

Friday, April 21, 2006

Mengejar Klavdij Sluban

Jegeerrrrrr, suara gemuruh petir menambah hirup-pikuk jalanan ibukota. Hujan yang kurasakan hanya gerimis. Di Jakarta Selatan dan kawasan selatan Jakarta hujan deras disertai petir sudah berlangsung. Bahkan genteng rumah teman di kawasan Buncit harus pecah 3 buah, listrik mati tersambar petir. Kutembus rerintiknya air langit menuju tempat parkir. Tekadku sudah bulat. Niat sudah terlanjur terucap hati. Jegererrrr. Kali ini getarannya semakin keras. Sebelumnya, langit dicahayai flash berkekuatan ribuan watt. Bressss ..., hujan besar mengguyur Menteng. Susah bernafas dan rasa sakit dikulit dan mata akibat terpaan air hujan ke wajah. Derasnya masih sama ketika motorku parkir di Galeri Nasional.

Malam ini pembukaan pameran foto dalam rangka Printemps Fran├žais 2006. Aku pikir dalam rangka pembukaan sebuah mall di Jakarta. Setahuku Printemps ya gak jauh-jauh dari pertokoan yang menjual beragam barang. Mulai dari buku, CD musik dan film, elektronik. Kurang lebih mirip Gramedia saat ini. Ternyata setelah aku cari info di internet minggu ini merupakan awal dari rangkaian Festival Kebudayaan Prancis 2006, nama kerennya Printemps Fran├žais 2006.

Kali ini CCF (Pusat Kebudayaan Prancis) menampilkan Klavdij Sluban. Klavdij Sluban kelahiran 3 Maret 1967 merupakan salah satu fotografer Prancis favoritku. Foto-fotonya karyanya sudah dipamerkan di beberapa negara. Turin, Tokyo, Luxembourg, dan sekarang Jakarta. Di tahun 2004 dia ke Indonesia sebagai tutor di workshop yang diadakan Oktagon. Rangkaian workshop ditutup dengan pameran hasil foto peserta, dia sebagai kuratornya. Semalam dia berpameran solo. Selain menampilkan foto-foto hasil hunting bersama peserta workshopnya yang lalu, ditampilkan foto perjalanan dia sendiri menyurusi Bali dan Sulawesi.

Bagi pemula di dunia fotografi dan belajar otodidak aku agak kesulitan menikmati fotonya. Kesulitanku adalah mereka-reka apa dalam benaknya ketika membuat foto itu. Kata Adrian Agoes (salah satu peserta workshopnya), foto yang bagus menurut Sluban adalah foto yang mengundang pertanyaan. Sisakan pertanyaan di foto tersebut, jangan dituntaskan. Buatlah orang berpikir dan bebas menginterpretasikan. Foto yang dipamerkan semua tanpa judul, hanya diberi keterangan tambahan berupa lokasi dan tahun pengambilan. Disinilah peran kurator. Yudhi Soerjoatmojo -sang kurator- memberi 'kata sambutan' yang terpampang besar di dekat pintu masuk pemeran, disebelah biografi Sluban. Cukup membantu, walaupun bagi awam sepertiku masih banyak pertanyaan yang akan aku ajukan jika bisa berdialog dengannya.

Kutipan dari kurator berikut ini mungkin bisa membantu :
Seorang diri, dan hanya berbekalkan sebuah kamera Leica, ia berjalan mencari momen-momen fotografis, tanpa paksaan dan tanpa tujuan yang direncanakan sebelumnya. Sambil larut dalam realita yang mengelilinginya, Sluban membiarkan dirinya diarahkan oleh emosi untuk menangkap momen-momen yang menyentuh. Foto-fotonya sama sekali bukan pengamatan sederhana yang hanya bertujuan untuk mencari obyektifitas, namun merupakan selintas pandangan pribadi yang melalui kualitas plastis mengajukan pertanyaan pada orang-orang yang melihatnya. Sekembalinya dari perjalanan, pada saat menyaksikan fotonya, bersama kita Klavdij Sluban berbagi kepuasan, juga harapan-harapannya yang tidak terpenuhi.
Disamping menampilkan foto-foto Indonesia, Sluban juga menampilkan karya-karyanya terdahulu. Beberapa dipajang dan sisanya berupa 'slide show' di televisi. Gak rugi aku bela-belain naik motor dalam hujan dan petir. Walau puas masih ada yang bikin nyesek sebelum masuk ke ruang pameran. Buku Habis Gelap -sama dengan judul pameran- yang diluncurkan bersama pembukaan pameran ternyata baru dijual hari Senin, tgl 24 April, pukul 13:00 di CCF Salemba. Hmmm, padahal aku sudah mengincar buku ini ketika membaca berita adanya pemaren ini.

Hujan tinggal sisa-sisa ketika aku pulang.

Tuesday, April 18, 2006

Fotografi Itu Mudah

Digitalisasi Fotografi

Sekarang fotografi sudah bukan menjadi sesuatu yang eksklusif, sulit dan mahal. Teknologi digital memujudkan hal tersebut.

Teknologi digital disini bukan dalam artian sempit yaitu kamera digital seperti yang banyak beredar dipasaran saat ini. Era awal 90an Nikon membuat inovasi yang disebut AMP Automatic Multi-Pattern di kamera Nikon FA. Teknologi ini ‘meramu’ logika berpikir fotografer, dimasukkan dalam sebuah chip dan dipakai sebagai pengukur pencahayaan otomatis di kamera. Chip ini boleh diandaikan sebagai prosesor di komputer. Sebagaimana yang kita tahu, pengukur cahaya konvensional mengukur cahaya (cahaya jatuh atau pantul) dan membuatnya samadengan 18% abu-abu. AMP selangkah lebih maju, dia sudah mengaplikasikan zone system sederhana untuk kondisi berbagai kondisi pencahayaan. Sekarang AMP dikenal dengan Matrix Metering. Keakuratan Matrix Metering ini menjadikan kamera produksi Nikon menjadi pilihan bagi banyak fotografer. Semua vendor kamera mengikuti membuat teknologi pengukuran pencahayaan otomatis. Canon menamai teknologi mereka dengan Evaluative Metering. Leica pun mencontoh teknologi Nikon di kamera SLR mereka, Leica R8.

Dengan teknologi tersebut diatas seorang tak perlu harus mengerti detil fotografi untuk membuat foto yang baik. Proses belajar menjadi semakin sederhana. Tinggal tekan shutter dan sebuah foto yang baik jadi!

Pun dengan pengukuran fokus. Pemakaian teknologi digital dan motor steper di lensa memungkikan semua itu. Teknologi autofokus melengkapi autoexposure. Kamera-kamera (terutama SLR) saat ini sudah semakin maju dengan mengaplikasikan multi sensor untuk mengukur fokus dan pencahayaan. Fotografi menjadi begitu mudah.

Digitalisasi juga merambah sensor kepekaan film (ASA, ISO). Dahulu ketika semua masih serba manual, sebelum motret kita diharuskan melakukan seting kepekaan film. Jika memakai film berasa 100 maka di kamera penunjuk ASA diset ke 100. Kesalahan menset ASA di kamera bisa berakibat foto yang dihasilkan over atau under. Adanya sensor yang melakukan scanning barcode di badan film membuat otomatis hal tersebut. Sekali lagi digital memudahkan aktivitas fotografi.

Tapi ketika masih memakai film banyak orang masih beranggapan fotografi masih mahal. Untuk bereksperimen tak luput banyak memerlukan rol film. Apalagi gejolak ekonomi di negeri ini membuat harga-harga semakin melambung. Tak pelak lagi orang masih berpikir dua kali untuk terjun menekuni hobi ini. Sampai akhirnya era kamera yang ‘benar-benar’ digital datang di tahun 2000an. Media rekam yang awalnya berupa lembaran seluloid berubah menjadi kepingan sensor. Dan lagi sekarang bisa dengan mudah berganti ISO/ASA. Bandingkan dengan dulu, sampai harus membawa dua buah kamera untuk mengantisipasi kebutuhan film dengan iso dan jenis yang berbeda. Sampai saat ini yang saya tahu ada dua jenis sensor yang mengemuka, CCD dan CMOS. Perdebatan mana yang lebih baik masih berlanjut, bagi saya tak penting. Saya tidak mau masturbasi dengan berdebat alat.

Vendor-vendor kamera berlomba memperbaiki logika di chip kamera produksi mereka. Penerjemahan dan pengolahan sinyal analog menjadi gambar digital semakin baik. Kualitas foto yang dihasilkan tak kalah dengan foto bermedia film. Majalah sekelas National Geographic sudah memakai foto hasil dari kamera digital untuk mengisi majalah. Agen foto seperti VII, Getty Images, MAGNUM juga.

Tidak sampai disitu. Software-software pengolah foto semakin marak. Dari yang harus beli sampai yang gratis. Adobe Photoshop, GIMP, Picture Window Pro, Picassa, Nikon Capture. Spesifikasi komputer yang semakin tinggi (dan dengan harga yang semakin murah) memudahkan pengolahan gambar. Hasil foto yang kurang baik bisa diperbaiki di komputer. Menghilangkan warna atau menambah warna. Cropping semakin luwes. Filter-filter yang disediakan semakin melengkapi kemudahan yang ditawarkan. Tak perlu lagi kamar gelap atau cairan kimia untuk semua ini.

Mudah dan murah bukan? Cukup dengan 2 sampai 3 juta anda sudah bisa membeli kamera digital berkualitas dengan body yang pas disaku. Untuk digital SLR tidak sampai 10jt. Terima kasih kepada teknologi digital.


Tetap Ada Kelemahan

Sudah kodratnya bahwa didunia ini tidak ada yang sempurna. Segudang digitalisasi fotografi tetap mempunyai kekurangan dan kelemahan.

Autoexposure misalnya. Kecanggihan teknologi ini memang diakui bisa memberi hasil yang akurat di banyak situasi, tapi tetap tidak semua situasi pencahayan bisa terselesaikan. Contoh : objek putih (terang) dan memiliki latarbelakang gelap yang porsinya sangat dominan. Objek akan overexposure karena kamera mengukur latarbelakang. Dan sebaliknya, jika objek yang gelap mempunyai latar belakang terang dengan ukuran yang dominan, objek akan underexposure.

Nah, disini peranan kerja otak manusia sebagai fotografer. Besar kecilnya kompensasi yang diberikan untuk mengakali kondisi diatas ini yang tidak bisa dilakukan oleh pengukur cahaya otomatis di kamera.

Begitupun dengan autofocus. Multi sensor yang diterapkan dalam memilih fokus juga ada titik lemahnya. Cara kerja multi sensor autofocus ini mengukur jarak objek terdekat – Closest Subject Priority. Bisa jadi objek yang ingin kita fokuskan adalah yang terjauh, tapi kamera mengambil yang terdekat. Lagi-lagi fotografer harus melakukan ‘tuning’.

Tahun lalu ada kasus yang menghebohkan dunia jurnalistik. Kemudahan pengolahan foto di komputer membuat seorang pewarta foto menambahi fotonya dengan sebuah objek yang awalnya tidak ada. Dengan penambahan ini fotonya yang sudah greget menjadi semakin greget lagi. Sayang ada yang mengetahui bahwa fotonya merupakan foto palsu, tidak asli lagi karena ada penambahan elemen yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Sayang sekali kerena kelalaian saya berita tersebut tidak saya kliping. Ini merupakan efek samping dari kemudahan mengolah foto yang ditawarkan teknologi digital. Efek samping tersebut bisa jadi menjadi efek positif untuk foto diluar foto jurnalistik. Dahulu sebelum kamera digital menjadi wabah, ada yang bilang, "dengan kamera digital Anda bisa menghapus sejarah."


Man Behind The Gun

Pendidikan dan pengalaman diperlukan untuk mengatasi batasan-batasan seperti diatas. Pendidikan pun tak harus formal. Terima kasih kepada internet yang sudah menyediakan tips-tips, tutorial gratis.

Teknologi tidak akan maksimal jika tidak dioperasikan oleh yang ‘ngerti’. Saya setuju dengan quote diatas, man behind the gun. Setinggi-tingginya teknologi kamera dia tetaplah sebuah alat pasif. Fotograferlah yang seharusnya menjadi otak untuk menghasilkan foto yang bagus. Teknologi hanya memudahkan dan memurahkan. Foto yang bagus tetap ditangan fotografer, walau dengan kamera produksi 50 tahun yang lalu. Definisi bagus disini bukan sebuah nilai eksak, dan akan membuka banyak perdebatan. Saya tidak membahasnya disini. Link berikut menunjukkan dengan kamera saku pun foto bagus bisa dibuat, Alex Majoli Points And Shoots.

Memperbanyak mengasah ilmu yang didapat dari sekolah, kursus, workshop, milist, klub, forum di internet yang akan membuat hasil foto kita mempunyai nyawa.<aw>


Latar belakang penulis :
- belajar fotografi otodidak
- pemakai kamera nikon format 135 (film dan digital)

Monday, April 17, 2006

Lamunan Kamar Mandi

Mama bilang aku orangnya jorse, jorok sekali. Jarang mandi, tapi sekali mandi luamaaaa sekali, hahaha. Tapi ya masak seperti itu sih ma :p. Eh, ini bukan membuka aib sendiri lho, hehe.

Setiap orang biasanya mempunya tempat, suasana yang menginspirasi. Maksudnya tempat atau suasana tersebut bisa memacu kreatifitas otak untuk lebih berpacu. Ide-ide segar dalam penyelesaian masalah diharapkan muncul ketika otak berpace demikian kencang. Nah, aku sendiri juga punya. Di kamar mandi, kadang di toilet kantor. Mama pasti sudah nyengir-nyengir kalau membaca tulisan ini, jorsee abisss. Entah karena baunya atau apanyalah aku senang 'berfikir' di kamar mandi. Memanjakan khayalan, berandai-andai.

Ide-ide foto, tulisan di blog, rencana-rencana jangka pendek, bahkan logika program untuk menyelesaikan masalah kantor sering keluar begitu saja ketika sudah mulai jongkok.

"Hahaha, itu ma alasan kenapa aku lama di kamar mandi"

Tak Boleh Egois

Sebelum menikmati libur panjang pesanan beberapa buku sudah tiba. Pesanan sebelumnya masih menyisakan satu buku tebal yang baru selesai, mmm mungkin seperdelapan dari ketebalannya. Cerita yang monoton dan datar membuat aku malas menyelesaikannya. Memang isinya bagus, pergulatan mental orang-orang dalam penjara. Tapi sayang hatiku belum 'grek'.

Libur datang. Kuisi dengan membeli bunga, sesekali membaca, menggendong Kintan, dan ... ini yang paling menyolok, begadang dan paginya bangun siang.

Libur kututup dengan mencari gordin, ke gramedia membeli setumpuk buku, dan makan steak di Margonda.

Mama hanya geleng-geleng kepala melihatku memborong novel-novel Indonesia klasik, hutang lagi bayarnya. Sambil tersenyum dan mengelus dada, begitu guyon ala kami. Hati kecilku berpendapat, itu bukan sekedar guyonan. Ada sesuatu dibaliknya. Mama memang bukan tipe frontal yang langsung mengutarakan pendapat jika ada sesuatu yang tidak mengenakkannya. Benar.

"Kapan main sama Kintan kalau bangunnya siang terus, jalan-jalan pagi, bersepeda?"
"Tidak terasa ya papa ditepuk-tepuk Kintan, seolah ingin membangunkan dan mengajak bermain?"

Tak kubalas kritik tersebut, karena memang benar begitu adanya. Jika besok libur, aku senang larut dalam begadang. Ada saja yang aku kerjakan, baca buku, mengolah foto, sampai yang ringan nonton TV. Seperti sebuah pelampiasan, pelarian untuk menghibur otak. Ya, kira-kira seperti itu. Jam 6 (kadang lebih) berangkat ke tempat kerja, sampai rumah lagi paling sore jam 6. 12 jam aku habiskan setiap harinya di hari kerja untuk beraktivitas di kantor. Mama juga.

Ya, aku tak boleh egois menuruti kata hati. Aku sudah punya mama dan Kintan, sudah seharusnya bersikap lebih dewasa, adil. Pikir-pikir, lebih banyak aku menghabiskan diri membacai novel daripada buku-buku perkembangan anak. Nah loh!

Maafkan papa ya sayang.

Buat mama, terima kasih kritiknya. Jangan sungkan untuk memberiku masukan dan kritik. Karena itu yang akan membangun kekompakan kita menjalani hari-hari. Mmmmuacchh!

Wednesday, April 12, 2006

Tuesday, April 11, 2006

Bermain Kelereng : Gigian

Didaerah lain aku gak tahu istilah untuk permainan ini, juga dalam bahasa Indonesia. Aku sebut saja gigian, karena itulah nama permainan yang sampai saat ini masih dimainkan anak-anak di desaku, Turen, Malang selatan, Jawa Timur.

Permainannya :
  • Beberapa pemain (biasanya lebih dari 2) memasang taruhan kelereng. Kadang juga uang, tentu dinilai dengan harga kelereng. Misalnya 100 rupiah = 5 kelereng. Jadi Kalau taruhannya 3 kelereng dan ada yang bertaruh uang 100 rupiah nanti akan dikembalikan 2 butir kelereng.
  • Kumpulan taruhan (kelereng) ditata berderet dalam satu garis lurus, dibelakang deretan kelereng ditarik garis sejajar dengan deretan kelereng sebagai 'pagar'. Jarak pagar dan deretan kelereng terserah kesepakatan para pemain. Kemudian ditentukan ujung mana yang jadi 'endas, gulu dan buntut'.
  • Ditarik garis lagi, sejajar deretan kelereng tapi didepan deretan kelereng. Garis ini sebagai batas area permainan.
  • Pemain melemparkan kelereng 'gico' (ibarat pemukul di permainan kasti) ke dalam area permainan. Jika diluar area permainan maka si pemain tidak berhak ikut bermain dalam satu putaran. Pemain dengan posisi gico terjauh dari garis batas menjadi pelempar pertama, dan sebaliknya. Urutan pelempar ditentukan jauh tidaknya gico dari garis batas. Jika gico seorang pemain tertumbuk gico pemain lain yang melempar untuk mendapat urutan melempar, maka pemain yang giconya 'kena' tadi dianggap mati, tidak berhak mengikuti permainan untuk satu putaran.
  • Setelah semua pemain melempar gico masing-masing untuk mendapatkan urutan melempar, pemain melempar sesuai urutan. Posisi melempar dari titik dimana giconya berada. Jika lemparan mengenai endas (kepala) atau gulu (leher) dan kelereng yang sebagai endas atau gulu tersebut melewati garis batas dibelakang maka semua permainan selesai. Semua deretan kelerang dibelakangnya menjadi hak pelempar. Jika kena selain endas dan gulu, hanya kelereng yang kena dan deretan dibelakangnya yang didapat. Kalau kena buntut ya artinya hanya dapat buntut tersebut.
  • Oh ya, kelereng yang kena harus satu dan melewati garis batas dibelakang deretan! Jika lebih dibatalkan, kelereng ditata lagi dan pemain berikutnya yang mendapat giliran.
  • Jika dalam satu putaran kelereng belum habis, permainaan bisa dilanjutkan dengan kelereng yang tersisa atau dimulai dari awal (bertaruh lagi). Pemain yang sebelumnya tidak boleh bermain, bisa ikut lagi. Begitu seterusnya sampai satu persatu pemain mengundurkan diri karena kehabisan kelereng.
Aha, aku ingat satu istilah yang lucu. Omel. Hehehe, lucu dan aneh kan? Omel (sekali lagi ini istilah di kampungku) itu artinya menyentuh sedikit, bukan telak. Atau kelereng yang kesenggol saja oleh kelereng lain yang dilempar. Lucu mendengarnya setelah beberapa tahun tidak mendengar istilah itu. Ketika tinggal di Jakarta dan sekarang Depok juga belum pernah melihat anak-anak main kelereng. Mungkin karena ketidakadaan lahan tanah datar yang luas. Kasihan sekali.

Ketika masih SD aku pernah menang main gigian. Selain menang kelereng juga menang uang, 1400 rupiah. Nilai yang besar untuk anak SD di desa sepertiku.

Pulang kampung tahun kemain bareng mama. Disamping rumah ortu yang kebetulan tanahnya masih lega dan rata ada 3 anak tetangga yang seru bermain gigian. Pas pula karena aku dan mama tidak bisa masuk rumah dikarenakan semua penghuni sedang beraktivitas diluar dan rumah dikunci. Daripada bosan menunggu aku bergabung saja bermain gigian. Dibawah ini hasilnya.


Memasang taruhan


Melempar gico untuk menentukan urutan


Kena! Sayang bukan ndase


Giliran berikutnya


Kelereng hasil permainan



Sepeda Baru

Anda termasuk anggota komunitas Bike2Work? Aku bukan. Bike2work merupakan komunitas penggemar sepeda yang bersepeda untuk menuju tempat kerja. Tidak tepat kalau aku membahasnya, ikut saja belum pernah. Aku hanya sering mengacungkan jempol ketika motorku mendahului pengendara sepeda. Aku salut dengan mereka. Maksudku mengacungkan jempol juga untuk ngompori mama supaya memberi ijin aku beli sepeda. Hehehe

Kemarin ketika membeli kado untuk hadiah anak kedua bosku, mama menuju konter sepeda. Mama menunjuk sebuah sepeda, kami menyebutnya sepeda mini. Modelnya mirip seperti link ini. Mama sepertinya pingin banget sepeda. Alasan dia supaya mbak Ma kalau ke warung tidak perlu jalan, karena lumayan juga jauhnya. Aku setuju. Tapi kami tak beli saat itu, karena memang yang dicari kado.

Sepulang dari rumah bos kami mampir ke toko sepeda. Tujuan pertama toko sepeda di Depok II. Mama lupa kalau dia sendiri yang pernah memberi tahu toko sepeda ini ketika kami melintas di Depok II. Seperti biasa, cina yang punya toko. Mama menunjuk sepeda yang dimau. Penjualnya memberi tahu harganya 750 rb. Waduh. Di Carefour ITC Depok saja 500 rb-an. Apa mungkin tipe yang lain? Si penjual tak puas ketika kami mengatakan di Carefour harga sepeda seperti itu cuma 500 rb. Dia melebih-lebihkan sepedanya dengan menunjukkan keranjang yang lebih bagus, ada kunci stang. Hah, emang aku anak kecil? Kok pernik-pernik kecil begituan yang ditunjukkan sebagai kualitas lebih. Dia menawarkan tipe dibawahnya, harganya 625 rb. Oh ya, dia malah menantang taruhan aku dan mama. Dia ngotot bahwa harga sepeda di Carefour itu bukan tipe yang dia jual sehingga lebih murah. Senyum sinisnya seperti mengejek kami, menganggap kami buta sepeda. Mama sudah bete dan mengajakku pergi. Malas mengikuti penjual seperti ini. Kalau tak boleh 500 rb ya sudah gak usah pakai taruhan segala, begitu gerutu mama.

Kami tak putus asa. Toko berikutnya yang kami tuju adalah toko di ujung jalan Margonda, dekat pertigaan Alfa menuju Sawangan. Ada dua toko disana, kami mulai dari yang paling dekat pertigaan. Entah apa nama tokonya. Sama saja, harganya lebih mahal dari Carefour. Mama mulai mengira-ngira bahwa yang di Carefour itu tipe classic, yang di toko-toko ditawarkan 625 rb. Kami pergi ke toko sebelahnya, disambut oleh pelayannya, cowok berkulit gelap. Sama juga. Kami keluar toko dengan alasan mau melihat toko yang lain. Belum sampai kami meninggalkan halaman toko cowok tadi mengejar kami, dia menurunkan harga. Sepertinya bos dia menginstruksikan dengan segera. Bosnya seperti paham pikiran kami, bahwa kami baru saja melihat harga di Carefour. Dia menawarkan 500 ribu untuk United Classic dan 475 untuk Wimcycle dengan model sama. Wah, godaan nih ma. Di Carefour saja 550rb. Aku berdiskusi dengan mama, dengan bahasa Jawa, berharap supaya pelayan tadi tidak mengerti yang kami omongkan. Walhasil, kami setuju membelinya. Plus pompa pula, 35 rb. Sayangnya tidak ada jasa pengantaran, kami harus membawa sendiri sepedanya. Kasihan mama harus mengalah naik angkot, maafkan ketidaksopanan sepeda ini ma, hehehe.

Hari semakin mendung ketika aku pulang membonceng sepeda. Akhirnya hujan juga. Tak apalah, nanggung. Motor jadi selebar mobil hingga tak bisa bermanuver. Nginthil aja dibelakang angkot. Alhamdulillah sampai dirumah. Gerimis tak juga reda.

Mama menyambut dengan riang sepeda barunya. Setelah diturunkan dari motor dan dikupas plastik pembungkusnya mama segera mencoba. Wah, mama riang sekali. Seperti anak yang mendapat hadiah sepeda sebagai imbalan naik kelas. Lucu melihat mama seperti itu. Kutawari boncengan. Kami berkeliling blok sebelah dengan ketawa-ketiwi cekikikan berhujan-hujan. Indah rasanya, seperti di film-film. Pacaran naik sepeda sambil bermandikan hujan. Teringat ketika 'bulan madu' di Turen, ke pasar bawa kamera dan berboncengan. Jalan yang tak rata membuat pantat bergoyang mengikuti irama roda yang terguncang-guncang melewati gundukan dan cekungan. Tapi sungguh asyik. Sekarang giliran mama mencoba sendiri. Kintan hanya melongo melihat kekanak-kanakan orangtuanya. Sayang besok masuk kerja sehingga tidak bisa bersepeda pagi membonceng mama.

Malam tiba. Entah ada apa malam ini begitu banyak nyamuk, gede-gede, tidak seperti biasa. Aku dan mama ke warung dekat gerbang, membeli obat nyamuk elektrik. Naik sepeda dong! Ternyata ketika sampai tanjakan nafasku tersengal-sengal. Mama mentertawakanku. Aku turun saja jalan kaki, biar mama yang bersepeda sampai toko. Setelah mendapatkan yang kami cari, kami pulang. Kali ini jalan menurun, aku tak perlu susah payah menggenjot pedal. Oh indahnya malam ini. InsyaAllah libur akhir minggu nanti aku ingin mengajak mama naik sepeda ke Studio Alam, atau menyusuri aspal Haji Dimun. Ya, berdua saja ya sayang ...

Eyang Uti, Kakung dan Kamar Baru Kintan

8 April 2006 jam 8 pagi aku dan mama sampai di stasiun Gambir, kereta Gajayana entah masih dimana. Lama kami menunggu, sampai petugas menyiarkan kabar bahwa kereta Gajayana sudah masuk stasiun Jatinegara. Pun tak lama berselang muncul juga kereta yang kami tunggu-tunggu, gerbong nomor 6. Wuiihh, ternyata tempatku menunggu dilewati begitu saja oleh gerbong nomor 6, segera kuberlari mengerjarnya. Untung tidak bergitu jauh, sehingga aku bisa segera menerobos kerumunan penumpang yang turun untuk membawakan bawaan mertuaku. 1 kopor pakaian dan beberapa kardus kecil oleh-oleh. Capek di wajah ibu dan bapak mertua segera berubah menjadi senyum ketika melihat kami menyambut beliau.

Ibu dan bapak mertua datang, beliau terutama ibu hendak berlibur seminggu di Depok, menggendongi Kintanku yang makin lucu saja. Bapak yang anggota Polri tentu tidak dapat meninggalkan pekerjaan terlalu lama. Ijinnya pun ijin ke Ngawi, bukan ke Jakarta. Oh ya, rumah mertuaku di Tulungagung, Jawa Timur. Kalau tidak didesak ibu entah kapan ibu akan kesampaian niatnya untuk mengunjungi kami. Wah, padahal adat jawa kan biasanya anak yang harus rajin-rajin berkunjung ke orangtua, bukan orangtua ke anak. Tak apalah, sekali-kali. Perjalanan ke Depok dilanjutkan dengan naik taksi.

Sampai juga di Depok. Wajah ibu dan bapak semakin riang tatkala melihat Kintan. Terakhir mereka melihat Kintan ketika masih umur 2 bulan. Saat itu Kintan masih belum aktif seperti sekarang, kepalanya gundul, beratnya sekitar 4 kiloan, dan masih sering tidur. Kintan menyambut sambil tiduran di ruang tengah, hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek. Terlihat badan Kintan yang seksi. Selama ini kami mengirimi foto perkembangan Kintan ke mertua dan orangtuaku. Foto itu yang membuat rasa kangen bertemu cucu semakin menjadi-jadi tiap hari, apalagi ditambah dengan celoteh di telepon. Senangnya melihat ibu bapak mertua bahagia bertemu Kintan. Seperti biasanya, Kintan masih bingung siapa yang dihadapinya. Untung Kintan tak menangis ketika digendong bapak, dan karena bapak yang terus menggodanya Kintan jadi cepat menyesuaikan diri, merasa tak asing lagi. Alhamdulillah.

Kamar untuk istirahat mertua belum siap, mama menyilahkan istirahat di kamar kami saja. Aku dan mama ke ruko untuk membeli kasur Palembang. Kamar yang disiapkan untuk istirahat mertuaku masih berantakan. Lokasinya pas disebelah kamar kami. Bukan berantakan, tapi masih berisi kardus-kardus bekas pindahan. Tertata tapi, tak berserakan begitu saja. Tapi juga tidak nyaman kalau dipakai tidur begitu saja, disamping itu tak akan muat dimasuki ranjang nomor 2. Menjelang magrib aku dibantu bapak dan mbak ma mengeluarkan kardus-kardus tersebut, ditaruh di ruang tengah begitu saja. Aku dan bapak mengerluarkan ranjang dari kamarku dan ditaruh di kamar sebelah. Pas, pas banget. Kardus-kardur tidak semua dikeluarkan, tapi dibantu dengan penerangan yang terang terasa layak untuk kamar tidur. Ranjang pegas ditambah kasur Palembang aku pikir pas, aku coba empuk juga. Segera setelah dilapisi seprei baru ibu dan bapak bisa beristirahat dengan nyaman. Kintan aku taruh ditengah-tengah mereka. Dan Kintan segera membuat kekacauan dengan berguling-guling menginvasi tempat tidur utinya. Hahahaha, dari kamar aku dan mama senyum-senyum saja.

Hari berganti. Pagi yang indah. Lokasi rumah yang jauh dari Jakarta tak membuat mertua berkomentar negatif. Beliau kata mama malah memuji kami, lingkungan nyaman dan tenang, jauh dari bising, udara bersih bisa dihirup dengan mudah, rumah yang tak panas dan pengap, dan tetangga yang berdekatan. Sebelumnya dalam bayangan ibu, rumahku terpencil karena aku bilang berada dipinggir hutan, tetangga-tetangga masih jarang, jauh dari dunia luar. Segera semua berubah ketika merasakan sendiri. Eh, yang benar satu, jauh. Rumahku memang jauh dari tempat kerja, 1 jam lebih naik motor, tentu kondisi macet. Ibu berjalan-jalan menikmati pagi dengan bapak.

Dibenak bapak ada yang masih kurang. Dihalaman depan ada air mancur yang suaranya menyejukkan. Beliau bilang kok tidak ada tanaman. Ya kami memang belum melengkapinya, padahal mama tiap liburan akhir minggu selalu mengingatkan. Satu lagi, kursi. Hehehe, dirumahku semu serba lesehan. Selesai sarapan bapak pergi mengendarai motor, beliau ingin lebih mengenal Depok. Tak disangka bapak datang sambil membawa 2 buah kursi plastik dan mejanya. Beliau pergi lagi. Pulang membawa kursi dan meja plastik lagi, kali ini diperuntukkan didalam. Aku sedikit tengsin, hehehe. Adanya kursi di halaman depan semakin membuat semarak rumah. Kami jadi lebih nyaman berkumpul di halaman depan, menikmati gemericik suara air. Sampai disuatu siang ...

Bapak mendapat kabar dari kantor. Hari Rabu, 12 April bapak akan dilantik menjadi kapolsek. Posisi saat ini beliau sebagai kanitlaka, sebelumnya juga kapolsek. Bapak ditawati posisi penting si lantas tapi menolak dengan alasan tidak mau jauh dari ibu. Sungguh, selain sebagai abdi negara yang loyal, bapak juga suami yang sangat cinta keluarga. Beliau lebih memilih menunda naik pangkat untuk menunggu kesembuhan ibu. Beliau ingin ketika upacara serah terima jabatan didampingi ibu, lebih baik tak naik pangkat daripada ibu sendiri dirumah dan bapak dilantik, begitu pikirnya. Sekarang ibu alhamdulillah sudah sehat. Sebelumnya ibu sakit sampai setahu lamanya, ada tumor di tulangbelakang yang menyerang sumsum hingga ibu tak bisa berjalan. Operasi di Surabaya tahun lalu berhasil membawa kesembuhan, perkembangan ibu sangat pesat. Sekarang ibu sudah bisa bekerja, aura di rumah Tulungagung menjadi ceria lagi. Semua berkat pertolongan Allah lewat semua usaha tanpa lelah apalagi putus asa bapak, juga kesabaran ibu dan semua dukungan anggota keluarga. Bapak panik mendapat kabar dadakan. Bingung. Naluri abdi negara bapak lebih berbicara kali ini, bapak ingin segera pulang. Takut semua tak disiapkan dengan baik. Bagi seorang polisi saat-saat seperti ini barang tentu sudah dinanti-nanti, benar-benar spesial. Sebagai polisi yang sudah mengabdi dengan sepenuh hati pelantikan ini tidak boleh terlewatkan, apalagi ibu sudah sembuh dan siap mendampingi suami tercinta. Akan menjadi kebanggan buat bapak dan ibu dan semua anggota keluarga. Saat itu siang, menjelang dhuhur. Bapak bertanya jadwal pesawat paling pagi. Wah, padahal beliau belum pernah naik pesawat, tentu ribet. Belum lagi nanti perjalanan dari Surabaya ke Tulungagung memakan waktu yang tidak pendek, naik bis umum kurang lebih 3 sampai 4 jam. Ibu menawarkan naik kereta sore ini. Dalam benak ibu hanya menantang bapak yang panik. Ternyata bapak mengiyakan. Giliran ibu yang sedih, sedih karena baru saja melihat Kintan sudah harus pulang lagi, dan entah kapan lagi bisa bertemu. Ibu benar-benar sedih, hanya mendung yang terlihat di air muka beliau. Akhirnya kami setuju, kami setuju berjudi ke Gambir mencari tiket hari H. Aku pesan taksi. Aku tiduran sambil menunggu taksi datang. Tak lama taksi datang, aku bergegas cuci muka dan bersiap. Kulirik jam dinding menunjukkan pukul 14. Kopor sudah dibagasi, ibu dan mama sudah ditaksi, akupun bergegas ke kursi depan. Bapak yang akan duduk di sebelah mama bergegas keluar mobil lagi. Beliau hendak mencium Kintan lagi. Ibu sudah tak mampu berkata-kata lagi, hanya menangis meratapi betapa cepatnya pertemuan ini. Sepanjang jalan ibu diam tak berkata-kata, matanya masih merah, sekali-kali mengusap tisu membasuh air mata yang luruh. Semua tegang. Kami sampai, aku segera mencari tiket. Alhamdulillah masih ada. Bapak mulai tenang karena mendapat kepastian bisa segera pulang, walau harus menunggu 2 jam setengah lagi. Kereta berangkat setengan enam, kami hanya bisa melambaikan tangan ketika kereta beranjak, sambil berdoa agar selamat sampai di Tulungagung. Ibu bisa tersenyum membalas lambaian kami.

Senin, 10 April 2006. Ibu dan bapak sudah datang, sms mbak Ari mengabarkan kedatangan beliau. Ibu mengirim sms ke mama. Beliau bercerita tidak menikmati perjalanan. Hanya mengisinya dengan menangis, makan malampun tidak. Ibu berjanji akan ke Depok lagi, mengunjungi Kintan, tapi tanpa bapak!

Pagi-pagi Kintan sudah mandi dan minum susu. Cuaca mendung, suhu agak dingin. Kintan dipakaikan celana dan baju lengan panjang. Seperti biasanya, Kintan tidur setelah minum susu. Mama menidurkannya di kamar sebelah, tempat Uti dan Kung-nya isitirahat semalam. Lampu dimatikan. Kintan nyenyak sekali, tidurnya lebih lama dari biasanya. Mungkin dia bermimpi bertemu Uti dan Kung, Uti duduk di kursi melihat Kintan digendong sambil berlari kecil mengejari Inul.

Friday, April 7, 2006

andri ae = dryae

Panggil namaku 3x, andri andri andri

Oleh-Oleh dari Paris

Bu Iya, temannya mama mendapat gelang. Pak Tri Kombes, sebotol wine buatan tahun 2000. Asep wine juga, tahun 1999. Office Boy kantorku, sekotak coklat 5 euro. Mama? Tanyakan saja pada yang bersangkutan :D.

Bukan oleh-oleh seperti itu yang ingin aku tulis disini. Di Paris aku tak habis 100 USD, sayang mau membelanjakan uang disana. Paris ya Paris, aku tak ngefans dengan kota ini. Bagiku biasa saja. Jangan salah, Paris memang eksotis, tapi kesana sendiri? Kasihan deh aku :p.

Empat kali berkunjung ke kota ini baru kali ini aku mencoba mengamati lebih detil pernik-perniknya. Aku ingin mencoba membandingkan dengan negeriku, siapa tahu banyak yang bisa dicontoh. Ini yang aku maksud oleh-oleh.

Transportasi. Hanya bisa berandai-andai kapan Jakarta dan kota-kota penyanggah sekitarnya bisa mempunyai infrastruktur seperti Paris. Mungkin kurang tepat jika dibandingkan dengan Paris, karena umurnya yang selisih sangat jauh. Jakarta sudah merintis dengan adanya busway, patut diacungi jempol. Sekarang sudah mulai dilanjutkan pembangunan monorel. Sayang, pembangunan tersebut masih dipusat kota. Mungkin untuk kota-kota penyanggah seperti Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang harus menunggu ide megapolitan terlaksana. Harus ada transportasi publik yang efisien waktu dan biaya yang menghubungkan Jakarta dan kota penyanggah. Semoga cepat terealisasikan.

Kebanggaan terhadap diri sendiri. Pondasi ini yang Indonesia tak punya! Contohnya bahasa Indonesia. Bangsa ini lebih senang dan bangga memakai bahasa asing sebagai nama gedung, pusat bisnis, iklan. Ketika mengadakan presentasi tak keren jika tak menyebut istilah asing. Dalam dialog sehari-hari pula. Bahkan seorang warga negara asing mengkritik Indonesia di sebuah media, kenapa bangsa ini tidak cinta berbahasa Indonesia? Aku sendiri? Aku masih sering menggunakan istilah-intilah asing dipercakapan, karena belum menemukan padanan katanya. Kalaupun ada aku masih ragu. Contohnya filter, ada yang bilang tapis dalam bahasa Indonesia. Aku masih merasa aneh. Yang gampang ya input = masukan, output = keluaran. Dulu aku juga merasa keren jika menyisipkan kata-kata asing di omongan. Educated lha rasanya. Di Paris, semua diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Film keluaran Hollywood tak luput. Di televisi juga, film berbahasa Inggris disulap menjadi bahasa setempat. Warna suara masih mirip dengan aslinya, itu yang hebat. Jadi suara Mel Gibson yang berbahasa Inggris diperanciskan dengan suara yang sama. Di Indonesia sudah beberapa (telenovel, film mandarin, india) seperti itu, tapi suaranya suara lokal. Terdengar aneh, walau itu yang benar! JTV di Jawa Timur sudah mulai menjawakan beberapa program hiburan filmnya. Lihatlah Indonesia sekarang ini. Semua dijual, kita takluk di asing. Contoh kecil saja, lihat betapa bertebarannya produk asing di toko swalayan. Padahal aku yakin Indonesia bisa membuatnya, dengan kualitas yang sama bahkan lebih sekalipun. Di Asia Tenggara Indonesia sudah kalah bersaing dengan Malaysia, Singapura, Thailand, dan sebentar lagi Vietnam. Mereka bisa maju karena mereka punya kebanggaan, kecintaan terhadap diri sendiri, dan cinta bahasa sendiri sebagai budaya dasar.

Satu lagi yang mengganjal. Aku bertemu rombongan TNI AU di bandaran Paris, mereka pulang sama seperti aku. Kami bertemu lagi di Singapora. Ketika menunggu keberangkatan ke Jakarta aku ajak salah seorang ngobrol. Dia bercerita dengan bangganya bahwa tanpa bayar bisa naik metro di Paris. Dia meniru tingkah negatif Parisian. Tak ada tiket melompati pintu pembatas. Aku hanya tersenyum kecut menanggapi. Pantas jika negara ini tidak maju-maju, mental pencuri seperti ini kental sekali, bahkan di aparat yang seharusnya memberi tauladan. Aku juga pernah sekali berbuat seperti itu, aku mengaku salah. Padahal aku juga punya tiket, hanya iseng saja saat itu. Aku menempelkan badanku ke teman yang langsing ketika akan melewati pintu masuk ke metro mengakali lebarnya jarak antar pembatas. Aku tak mau mengulanginya lagi, malu.

Jadi teringat salam tempel di KRL Jabodetabek :(.

Mama, Kintan, ... Papa pulang!

Lebih baik terlambat daripata tidak.

Tak terasa sudah 9 hari aku meninggalkan keluarga, training ke Paris. Hari ini hari aku sampai di Indonesia. Mendarat di Cengkareng pukul 10 entah lebih berapa. Dinginnya Paris langsung berganti 180 derajad. Batuk dan pilekku sepertinya akan tidak semakin membaik.

Berdua dengan Yusron naik Silverbird dari Bandara ke Depok, muahal sekali. Gak apa-apa karena sebentar lagi akan bertemu buah hatiku. Sayang, mama ada di kantor.

"Srekkk", gerbang kubuka segera setelah turun dari taksi dan menurunkan koper. Pintu tertutup rapat. Siang semakin menyengat.

"Kintannnn."

Dari dalam kudengar suara mbak Ma memberitahu Kintan akan kedatanganku. Kubiarkan koper diluar, segera kubuka pintu dan ... Kintan sudah dipangkuan mbak Ma menyambutku.

Rambut tipisnya terlihat semakin menebal, wajahnya lebih cantik bersinar. Sayang senyum khasny belum terlihat. Rupanya Kintan masih bingung, siapa ya yang ada didepanku, mungkin begitu dipikirannya. Masih dengan wajah bingung dia menoleh ke mbak Ma, seperti mencari penegasan. Aku terus menggoda, menanti-nantikan senyumnya. Senyum yang sudah aku bayangkan ketika sampai di Paris sejak hari pertama. Eh, tersenyum. Kok sebentar. Dia masih belum yakin. Kugendong saja!

Sambil mendekap aku menggodainya. Dia mulai sadar siapa laki-laki yang menggendongnya. Papa! Senyumnya mulai lebar, lebih manis. Kuajak jalan cepat ke depan, kugoyang-goyang. Tertawa! Suaranya semakin tegas. Dia senang sekali. Tertawanya lepas, walau aku diamkan. Senyum menggantikan tawa riangnya. Apa dia juga sudah punya perasaan seperti layaknya anak yang sudah mengerti kangen? Tak terasa air mata ini luruh. Hanya bahagia menyelimuti hati.

Papa pulang sayang!

- Depok, 3 April 2006 -

SQ dan Film Indonesia

Tak kurang dari 12 jam untuk menempuh perjalanan Paris - Singapura (dan sebaliknya) untuk kemudian melanjutkan ke Jakarta. Untunglah penerbangan minggu naik Singapore Airlines, biasanya disingkat SQ. Biasanya aku naik Air France, dari namanya sudah dikenal maskapai negara Perancis. Jika naik Air France aku bisa dapat 1 tiket terbang gratis ke negara eropa lain selain negara yang aku kunjungi. Dengan SQ tidak. SQ lebih mahal.

Ternyata harga mahal itu dibayar di pelayanan. Sepanjang perjalanan setiap beberapa menit (tentu tidak 10 menit sekali) pramugari-a mondar-mandir menawarkan snack dan minuman. Snack yang ditawarkan pertama kacang oven. Gurih, tidak terlalu asin. Giliran minuman yang ditawarkan, juga tissu untuk membersihkan tangan habis makan kacang. Minuman juga beragam, air minum biasa, wine, bir. Standar penerbangan internasional. Tak lama berselang roti keras tawar khas Eropa. Diikuti minuman lagi. Makan berat 2 kali, semunya asian taste. Sangat masuk ke lidahku. Tak sempat rasanya kelaparan di pesawat.

Lain makanan lain hiburan. SQ menawarkan lebih dari 70 film dalam satu penerbangan dan puluhan musik! Sayang aku tidak sempat merasakan musiknya. Asyiknya lagi, film yang kita pilih bisa di pause, rewind, forward semau sendiri. Di Air France jika sudah terlambat ya terlambat, harus nunggu putaran berikutnya. Film juga bukan sembarang film, film kategoti baru juga ada, jangan ditanya yang sudah lama diputar di 21, karena pasti ada. Genre film juga beragam. Drama, laga, komedi. Masing-masing genre ada beberapa pilihan. Tapi ada yang membuat aku sedih. Tak satupun film Indonesia ada disitu :(. Asia diwakili India, Cina, Thailand. Seingatku 3 negara itu, mungkin ada lagi tapi aku gak tahu. Kalau musik sepertinya ada musik arab. Aku pikir Indonesia tak kalah dengan 3 negara tersebut. Indonesia punya sineas handal macam Garin Nugroho, Riri Riza, Mira Lesmana. Sayang sekali.

Memang jika diamati secara umum film Indonesia masih begitu-begitu saja. Tak jauh dari tema pop, cinta ABG. Kenapa hanya film-film seperti itu yang banyak dibuat di Indonesia? Apa selera masyarakat masih 'rendah' sehingga sineas-sineas malas membuat tema yang 'berat'. Indonesia negara maritim, punya pelaut handal, pasti banyak cerita bisa digali dari sana. Masak kalah dengan The Perfect Storm? Indonesia punya cerita perjuangan yang tak kalah dengan Perang Dunia. Peristiwa 10 November di Surabaya contohnya. Dasyatnya peristiwa ini aku pikir pantas diangkat ke layar perak. Sangat amat disayangkan cerita-cerita besar negeri ini tak mampu mengalahkan bualan busuk film (dan sinetron) garapan lokal.

Musik dan film sebelas duabelas. Sama saja ... produser hanya berpikir uang, uang, dan uang. Kreativitas nanti dulu.

:(, maaf jadi ngelantur tak karuan.

Akses blog lambat :(

Selasa hari pertama masuk kerja setelah seminggu 'berlibur'. Batuk pilek menjadi oleh-oleh dari Paris. Kasihan mama dan Kintan, aku bawain penyakit. Maafkan papa ya ...

Sudah menjadi kebiasaan menulis blog jika ada sesuatu yang ingin dicatat. Sampai di kantor setting proxy internet bermasalah harus diganti. Ternyata, ... walau sudah diganti tetap saja internet serasa menjadi barang mahal di kantor (divisiku). Hiks ...

Lambatnya minta ampuuunnnn. Akses ke blogger seperti membuka web dengan alokasi bandwidth 5kbps. Gileeee, untuk mengupdate catatan perjalanan ke Paris minggu lalu harus malam hari ketika pas ada kerja malam. Kalau saja malam ini begadang di kantor, ya entah sampai kapan catatan perjalanan itu selesai. Itupun ada beberapa cerita yang ingin aku tulis tapi masih belum mood. Ya, karena akses yang anjritt lambatnya. Kata mama akses dari kantornya cepat, dia menawarkan bantuan upload.

Kasihan kuli, akses internet pun dibatasi :(.

Thursday, April 6, 2006

Catatan perjalanan : hari kelima training

Wuhhhh, tak terasa hari ini hari terakhir training. Sebentar lagi aku pulang dan bisa menggendong buah hatiku. Sudah kangen sekali rasanya.

Yang istimewa di hari terakhir training ini adalah makan siangnya. Kami dijamu di restoran Thailand. Beberapa teman yang sudah pernah merasakan masakan Thai mengeluh karena rasanya yang asam pedas gak jelas. Aku sendiri belum pernah merasai masakan Thai. Didepan restoran terpampang logo bintang 3. Wow, standar internasional dong.

Menu pembuka sepertinya membenarkan perkataan teman tadi. Aku memesan beef salad. Daging sapi dicampur daun sawi. Cenderung asam rasanya. Apa ini alamat semua masakan nanti berasa asing dilidah? Ternyata tidak. Menu utama sangatlah menggoda nafsu makan. Steam Fish. Penyajiannya : ikan direbus di suatu wadah, wadah tersebut dibuat dari daun pisang, dibumbui dan ditambahkan santan. Jangan tanya rasanya, karena pasti susah aku ungkapkan. Passss banget. Hati terdalam ingin nambah nasi, tapi perut menyangkal karena sudah ambang batas kenyang. Penutupnya mangga afrika yang bohai. Semua senang semua puas! Hanya restoran Indonesianya Pak Umar Said yang bisa menandingi makan siang hari ini.

Kami kembali ke ruang training dengan senyum kekenyangan. Sayang, kenapa baru hari terakhir kami tahu ada restoran yang uenak itu. Jangan-jangan orang Ferma sengaja mengundang di hari terakhir saja, karena harga makanan disitu yang lebih mahal dari restonya Maria. Jangan kuatir, kang Henry yang akan berangkat ke Paris akhir bulan ini akan kukompori tuk makan disana saja. Materi training tinggal dua slide lagi. Bada menerangkan dengan cepat karena materinya masih mirip-mirip dengan hari sebelumnya. Training selesai dan semua mendapat sertifikat. Kalau semua sertifikat trainingku dikumpulkan, semuanya dari Ferma, hahaha. Tak berkembang, berputar-putar di itu-itu saja.

Training sudah selesai, teman-teman sudah pulang dan melanjutkan perburuan oleh-oleh di Montmartre. Di Jakarta ada masalah, banyak pengisian pulsa yang gagal. Semua berharap aku bisa remote dari Paris. Aku ke meja Jean Marc ditemani Ony. Pinjam laptopnya. Gak enak juga mengganggu kerja dia, bagaimanapun aku tamu disini.

Lama aku bekerja di laptopnya. Beberapa kali dia bertanya kapan selesainya. Tak enak rasanya numpang. Hari ini hari Jumat, semua karyawan siap-siap liburan. Jam kantor berakhir jam 6 sore. Beberapa temannya sudah pamitan liburan weekend. Anjtriiitt. Masih banyak yang harus aku selesaikan. Sekali lagi aku minta maaf ke Jean Marc.

Akhirnya selesai sudah. Kukabari Zikri, dia yang menenangkan dealer yang sudah berteriak karena pelanggannya komplain. Ony yang sedari tadi nunggu aku ajak pulang dan menyusul teman-teman. Kami kembali ke hotel terlebih dahulu, menaruh dokumen training.

Tujuan kami berikutnya adalah Sacre Cour, gereja tua di kawasan Montmartre. Kawasan Monmartre bagiku sangat eksotis. Berjalan di gang-gang sempitnya yang beralasakan batu serasa memasuki Paris jaman dulu. Aku tahu eksotisnya kawasan ini gara-gara tersesat ketika entah aku lupa tahun berapa berjalan-jalan mencari Sacre Cour. Disini juga banyak disebut sebagai kawasan seniman, terutama pelukis. Dibelakang Sacre Cour letaknya, sebuah taman kecil dikelilingi kafe, berjajar pelukis-pelukis Paris. Kebanyakan pelukis portrait. Harga lukisannya mahal, setidaknya menurut dompetku. Tapi kuakui lukisan hasil mereka bagus, melihatnya serasa memasuki alam diluar sadarku. Masing-masing punya gaya tersendiri, mereka bukan lagi mencari jatidiri dalam karyanya. Ada yang senang bereksplorasi dengan cat air, bahkan pensil. Dandanan mereka pun juga punya gaya, boleh disimpulkan ciri-cirinya : rambut gondrong tak terurus, sebagian bertopi, pakaian kumal penuh noda cat minyak atau cat air, mata cekung. Beberapa orang aku lihat berwajah kecinaan.

Puas berputar-putar di kampung pelukis aku menunjukkan sebuah sudut eksotis lain ke Ony. Kusebut saja Le Consulat. Beberapa foto aku ambil dari sudut ini. Ony bilang minggu depan harus kesini lagi. Tak cukup waktu yang sebentar menikmati eksotisnya old Paris.

Sms dari Rio, "Mau ikut makan gak? Kt di resto pizza di bwh". Kuteruskan jalan-jalanku dengan Ony.

Hari sudah semakin gelap, matahari sudah terbenam, lampu jalanan sudah menyala. Kami putuskan tuk turun dan makan malam karena perut sudah menuntut haknya. Kami makan kebab. Aku tahu beberapa restoran halal di sekitar Montmartre, salah satunya Al-Jawahra (semoga gak salah tulis). Satu orang enam setengeh euro untuk seporsi kebab dan sekaleng lipton ice tea. Ternyata rombongan Rio dan yang lain sudah di depan Moulin Rouge. Kami segera menyusul.

Melewati jajaran toko-toko penjaja kenikmatan seksual. "Student price, come on, student price", seorang calo berpromosi begitu kami lewat depannya. Ony yang aku lihat dasarnya anak baik gerah juga aku ajak berjalan melewati kawasan lampumerahnya Paris, Pigalle. Sepertinya dia tertarik masuk ke museum sex, tapi gak jadi. Kami berkumpul di depan Moulin Rouge. Agung dan ... (aduh siapa ya aku lupa) sudah pulang terlebih dahulu. Semuanya telah memborong kaos buat oleh-oleh. Wajah kuyu capek berjalan dan berbelanja tampak dimuka masing-masing. Hmmm, ... katanya rekor dipegang Yusron, 200 euroan habis di Montmartre. Sebagai acuan, untuk kaos bisa didapat 15 euro 4 potong kaos. Tentu disini rupa-rupa suvenir sangat banyak. Mulai yang paling pasaran, gantungan kunci sampai parfum murahan. Kami pulang ke hotel dan bersiap untuk menyongsong weekend. Training kali ini tidak ada negara lain yang kita kunjungi untuk mengisi libur akhir minggu.

- 31 Maret 2006, 60 Rue Eteine Dollet -