Tuesday, April 18, 2006

Fotografi Itu Mudah

Digitalisasi Fotografi

Sekarang fotografi sudah bukan menjadi sesuatu yang eksklusif, sulit dan mahal. Teknologi digital memujudkan hal tersebut.

Teknologi digital disini bukan dalam artian sempit yaitu kamera digital seperti yang banyak beredar dipasaran saat ini. Era awal 90an Nikon membuat inovasi yang disebut AMP Automatic Multi-Pattern di kamera Nikon FA. Teknologi ini ‘meramu’ logika berpikir fotografer, dimasukkan dalam sebuah chip dan dipakai sebagai pengukur pencahayaan otomatis di kamera. Chip ini boleh diandaikan sebagai prosesor di komputer. Sebagaimana yang kita tahu, pengukur cahaya konvensional mengukur cahaya (cahaya jatuh atau pantul) dan membuatnya samadengan 18% abu-abu. AMP selangkah lebih maju, dia sudah mengaplikasikan zone system sederhana untuk kondisi berbagai kondisi pencahayaan. Sekarang AMP dikenal dengan Matrix Metering. Keakuratan Matrix Metering ini menjadikan kamera produksi Nikon menjadi pilihan bagi banyak fotografer. Semua vendor kamera mengikuti membuat teknologi pengukuran pencahayaan otomatis. Canon menamai teknologi mereka dengan Evaluative Metering. Leica pun mencontoh teknologi Nikon di kamera SLR mereka, Leica R8.

Dengan teknologi tersebut diatas seorang tak perlu harus mengerti detil fotografi untuk membuat foto yang baik. Proses belajar menjadi semakin sederhana. Tinggal tekan shutter dan sebuah foto yang baik jadi!

Pun dengan pengukuran fokus. Pemakaian teknologi digital dan motor steper di lensa memungkikan semua itu. Teknologi autofokus melengkapi autoexposure. Kamera-kamera (terutama SLR) saat ini sudah semakin maju dengan mengaplikasikan multi sensor untuk mengukur fokus dan pencahayaan. Fotografi menjadi begitu mudah.

Digitalisasi juga merambah sensor kepekaan film (ASA, ISO). Dahulu ketika semua masih serba manual, sebelum motret kita diharuskan melakukan seting kepekaan film. Jika memakai film berasa 100 maka di kamera penunjuk ASA diset ke 100. Kesalahan menset ASA di kamera bisa berakibat foto yang dihasilkan over atau under. Adanya sensor yang melakukan scanning barcode di badan film membuat otomatis hal tersebut. Sekali lagi digital memudahkan aktivitas fotografi.

Tapi ketika masih memakai film banyak orang masih beranggapan fotografi masih mahal. Untuk bereksperimen tak luput banyak memerlukan rol film. Apalagi gejolak ekonomi di negeri ini membuat harga-harga semakin melambung. Tak pelak lagi orang masih berpikir dua kali untuk terjun menekuni hobi ini. Sampai akhirnya era kamera yang ‘benar-benar’ digital datang di tahun 2000an. Media rekam yang awalnya berupa lembaran seluloid berubah menjadi kepingan sensor. Dan lagi sekarang bisa dengan mudah berganti ISO/ASA. Bandingkan dengan dulu, sampai harus membawa dua buah kamera untuk mengantisipasi kebutuhan film dengan iso dan jenis yang berbeda. Sampai saat ini yang saya tahu ada dua jenis sensor yang mengemuka, CCD dan CMOS. Perdebatan mana yang lebih baik masih berlanjut, bagi saya tak penting. Saya tidak mau masturbasi dengan berdebat alat.

Vendor-vendor kamera berlomba memperbaiki logika di chip kamera produksi mereka. Penerjemahan dan pengolahan sinyal analog menjadi gambar digital semakin baik. Kualitas foto yang dihasilkan tak kalah dengan foto bermedia film. Majalah sekelas National Geographic sudah memakai foto hasil dari kamera digital untuk mengisi majalah. Agen foto seperti VII, Getty Images, MAGNUM juga.

Tidak sampai disitu. Software-software pengolah foto semakin marak. Dari yang harus beli sampai yang gratis. Adobe Photoshop, GIMP, Picture Window Pro, Picassa, Nikon Capture. Spesifikasi komputer yang semakin tinggi (dan dengan harga yang semakin murah) memudahkan pengolahan gambar. Hasil foto yang kurang baik bisa diperbaiki di komputer. Menghilangkan warna atau menambah warna. Cropping semakin luwes. Filter-filter yang disediakan semakin melengkapi kemudahan yang ditawarkan. Tak perlu lagi kamar gelap atau cairan kimia untuk semua ini.

Mudah dan murah bukan? Cukup dengan 2 sampai 3 juta anda sudah bisa membeli kamera digital berkualitas dengan body yang pas disaku. Untuk digital SLR tidak sampai 10jt. Terima kasih kepada teknologi digital.


Tetap Ada Kelemahan

Sudah kodratnya bahwa didunia ini tidak ada yang sempurna. Segudang digitalisasi fotografi tetap mempunyai kekurangan dan kelemahan.

Autoexposure misalnya. Kecanggihan teknologi ini memang diakui bisa memberi hasil yang akurat di banyak situasi, tapi tetap tidak semua situasi pencahayan bisa terselesaikan. Contoh : objek putih (terang) dan memiliki latarbelakang gelap yang porsinya sangat dominan. Objek akan overexposure karena kamera mengukur latarbelakang. Dan sebaliknya, jika objek yang gelap mempunyai latar belakang terang dengan ukuran yang dominan, objek akan underexposure.

Nah, disini peranan kerja otak manusia sebagai fotografer. Besar kecilnya kompensasi yang diberikan untuk mengakali kondisi diatas ini yang tidak bisa dilakukan oleh pengukur cahaya otomatis di kamera.

Begitupun dengan autofocus. Multi sensor yang diterapkan dalam memilih fokus juga ada titik lemahnya. Cara kerja multi sensor autofocus ini mengukur jarak objek terdekat – Closest Subject Priority. Bisa jadi objek yang ingin kita fokuskan adalah yang terjauh, tapi kamera mengambil yang terdekat. Lagi-lagi fotografer harus melakukan ‘tuning’.

Tahun lalu ada kasus yang menghebohkan dunia jurnalistik. Kemudahan pengolahan foto di komputer membuat seorang pewarta foto menambahi fotonya dengan sebuah objek yang awalnya tidak ada. Dengan penambahan ini fotonya yang sudah greget menjadi semakin greget lagi. Sayang ada yang mengetahui bahwa fotonya merupakan foto palsu, tidak asli lagi karena ada penambahan elemen yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Sayang sekali kerena kelalaian saya berita tersebut tidak saya kliping. Ini merupakan efek samping dari kemudahan mengolah foto yang ditawarkan teknologi digital. Efek samping tersebut bisa jadi menjadi efek positif untuk foto diluar foto jurnalistik. Dahulu sebelum kamera digital menjadi wabah, ada yang bilang, "dengan kamera digital Anda bisa menghapus sejarah."


Man Behind The Gun

Pendidikan dan pengalaman diperlukan untuk mengatasi batasan-batasan seperti diatas. Pendidikan pun tak harus formal. Terima kasih kepada internet yang sudah menyediakan tips-tips, tutorial gratis.

Teknologi tidak akan maksimal jika tidak dioperasikan oleh yang ‘ngerti’. Saya setuju dengan quote diatas, man behind the gun. Setinggi-tingginya teknologi kamera dia tetaplah sebuah alat pasif. Fotograferlah yang seharusnya menjadi otak untuk menghasilkan foto yang bagus. Teknologi hanya memudahkan dan memurahkan. Foto yang bagus tetap ditangan fotografer, walau dengan kamera produksi 50 tahun yang lalu. Definisi bagus disini bukan sebuah nilai eksak, dan akan membuka banyak perdebatan. Saya tidak membahasnya disini. Link berikut menunjukkan dengan kamera saku pun foto bagus bisa dibuat, Alex Majoli Points And Shoots.

Memperbanyak mengasah ilmu yang didapat dari sekolah, kursus, workshop, milist, klub, forum di internet yang akan membuat hasil foto kita mempunyai nyawa.<aw>


Latar belakang penulis :
- belajar fotografi otodidak
- pemakai kamera nikon format 135 (film dan digital)

2 comments:

Rizky A Maulana said...

Bravo Ndry. Aku rasa orang yang awam fotografi dengan membaca tulisan ini akan langsung tertarik pada fotografi. Sekali kali...Bravo.

Wasalam

[[ ..J O W V Y.. ]] said...

ta' tunggu yah draft-nya plus ilustrasi...
trus buat yang ada linkernya, copy-in aja dlm file jpg.
Cincaylah bro!!
OKS..