Tuesday, April 11, 2006

Bermain Kelereng : Gigian

Didaerah lain aku gak tahu istilah untuk permainan ini, juga dalam bahasa Indonesia. Aku sebut saja gigian, karena itulah nama permainan yang sampai saat ini masih dimainkan anak-anak di desaku, Turen, Malang selatan, Jawa Timur.

Permainannya :
  • Beberapa pemain (biasanya lebih dari 2) memasang taruhan kelereng. Kadang juga uang, tentu dinilai dengan harga kelereng. Misalnya 100 rupiah = 5 kelereng. Jadi Kalau taruhannya 3 kelereng dan ada yang bertaruh uang 100 rupiah nanti akan dikembalikan 2 butir kelereng.
  • Kumpulan taruhan (kelereng) ditata berderet dalam satu garis lurus, dibelakang deretan kelereng ditarik garis sejajar dengan deretan kelereng sebagai 'pagar'. Jarak pagar dan deretan kelereng terserah kesepakatan para pemain. Kemudian ditentukan ujung mana yang jadi 'endas, gulu dan buntut'.
  • Ditarik garis lagi, sejajar deretan kelereng tapi didepan deretan kelereng. Garis ini sebagai batas area permainan.
  • Pemain melemparkan kelereng 'gico' (ibarat pemukul di permainan kasti) ke dalam area permainan. Jika diluar area permainan maka si pemain tidak berhak ikut bermain dalam satu putaran. Pemain dengan posisi gico terjauh dari garis batas menjadi pelempar pertama, dan sebaliknya. Urutan pelempar ditentukan jauh tidaknya gico dari garis batas. Jika gico seorang pemain tertumbuk gico pemain lain yang melempar untuk mendapat urutan melempar, maka pemain yang giconya 'kena' tadi dianggap mati, tidak berhak mengikuti permainan untuk satu putaran.
  • Setelah semua pemain melempar gico masing-masing untuk mendapatkan urutan melempar, pemain melempar sesuai urutan. Posisi melempar dari titik dimana giconya berada. Jika lemparan mengenai endas (kepala) atau gulu (leher) dan kelereng yang sebagai endas atau gulu tersebut melewati garis batas dibelakang maka semua permainan selesai. Semua deretan kelerang dibelakangnya menjadi hak pelempar. Jika kena selain endas dan gulu, hanya kelereng yang kena dan deretan dibelakangnya yang didapat. Kalau kena buntut ya artinya hanya dapat buntut tersebut.
  • Oh ya, kelereng yang kena harus satu dan melewati garis batas dibelakang deretan! Jika lebih dibatalkan, kelereng ditata lagi dan pemain berikutnya yang mendapat giliran.
  • Jika dalam satu putaran kelereng belum habis, permainaan bisa dilanjutkan dengan kelereng yang tersisa atau dimulai dari awal (bertaruh lagi). Pemain yang sebelumnya tidak boleh bermain, bisa ikut lagi. Begitu seterusnya sampai satu persatu pemain mengundurkan diri karena kehabisan kelereng.
Aha, aku ingat satu istilah yang lucu. Omel. Hehehe, lucu dan aneh kan? Omel (sekali lagi ini istilah di kampungku) itu artinya menyentuh sedikit, bukan telak. Atau kelereng yang kesenggol saja oleh kelereng lain yang dilempar. Lucu mendengarnya setelah beberapa tahun tidak mendengar istilah itu. Ketika tinggal di Jakarta dan sekarang Depok juga belum pernah melihat anak-anak main kelereng. Mungkin karena ketidakadaan lahan tanah datar yang luas. Kasihan sekali.

Ketika masih SD aku pernah menang main gigian. Selain menang kelereng juga menang uang, 1400 rupiah. Nilai yang besar untuk anak SD di desa sepertiku.

Pulang kampung tahun kemain bareng mama. Disamping rumah ortu yang kebetulan tanahnya masih lega dan rata ada 3 anak tetangga yang seru bermain gigian. Pas pula karena aku dan mama tidak bisa masuk rumah dikarenakan semua penghuni sedang beraktivitas diluar dan rumah dikunci. Daripada bosan menunggu aku bergabung saja bermain gigian. Dibawah ini hasilnya.


Memasang taruhan


Melempar gico untuk menentukan urutan


Kena! Sayang bukan ndase


Giliran berikutnya


Kelereng hasil permainan



No comments: