Monday, July 31, 2006

Develop film B/W pertama kali

Setelah hanya berangan-angan akhirnya kuberanikan memproses film B/W sendiri. Rencananya seperti tertulis di sini, tetapi dalam prakteknya ada yang berbeda. Berikut kira-kira yang aku kerjakan malam itu. Tentu saja, hasilnya belum bisa aku bayangkan.

1. Persiapan

Air cukup memakai air PAM yang ditaruh di ember besar, didiamkan beberapa jam biar mengendap. Dianjurkan juga untuk merebusnya beberapa saat. Tapi itu tidak aku lakukan. Ambil air yang ada aja.

Takar air untuk masing-masing larutan (developer, fixer, wetting agent) sesuai komposisi yang telah direncanakan. Aku hanya memakai air sebagai stop bath.

Dinginkan air sebelum dilarutkan dengan cairan kimia sampai dibawah 23 derajad. Untuk kondisi rumahku lebih baik lebih dingin karena begitu air dikeluarkan dari lemari es dan dicampur bahan kimia suhunya cepat naik. Targetku suhu larutan 24 derajad celcius. Mau pake water jaket gak ada es dirumah.

Sambil menunggu air dingin, giliran memasukkan film ke reel. Membuka bungkus film dengan pembuka botol ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Jika ada, lebih baik memakai alat untuk mengeluarkan lidah film daripada membongkar bungkusnya. Film yang aku pakai Ilford Fp4+ EI 125.

Oh ya, langkah diatas dilakukan di ruang gelap total atau didalam changing bag (jika punya). Karena tak punya aku siasati dengan mematikan semua lampu (kecuali kamarnya Kintan :D) dan melakukan aktifitas didalam selimut (pinjam selimutnya Kintan yang gak kepakai, hehehe). Khawatir bocor juga, tapi namanya jg uji coba, bisa sukses bisa gagal.

Memasukkan film ke reel plastik cukup mudah, dengan beberapa latihan sambil mata tertutup dijamin lancar. Setelah selesai masukkan ke tank dan tutup dengan rapat. Masukkan ke lemari es untuk membuat suhunya sama dengan cairan.

2. Membuat Larutan

Developer
Sedianya ingin memakai D76 tapi apa daya nemunya Tmax ya sudah itu dimanfaatkan. Ternyata lebih praktis :D. Karena bentuknya yang cair tidak perlu membuat stok larutan terlebih dahulu. Tinggal campur air beres. Komposisinya 1+4 (1 porsi tmax + 4 porsi air). Sesuai ukuran tabungku aku membuat larutan sebanyak 500ml. Jika suhu larutan diatas 24 derajad dinginkan terlebih dahulu. Nah disini fungsinya water jaket untuk merendam larutan hingga mencapai suhu yang diinginkan.

Fixer
Komposisi dan suhu sama dengan developer. Memakai Ilford Rapid Fixer

Wetting agent
Disini suhu sudah tidak begitu kritis, cukup plus minus 5 derajad dari suhu developer. Komposisi yang aku pakai, 496ml air + 4 ml wetting agent Ilford Ilfosol. Terlalu banyak bisa merusak negatif, lebih sedikit dari rekomendasi produsen tak mengapa.

Stop bath
Cukup memakai air yang sudah didiamkan di ember beberapa jam. Suhu aku kira masih dalam selisih 5 derajad.

3. Proses Inti

Nah, ini dia serunya. Ok, mari kita mulai!

Developer
Setelah memastikan suhu (24 derajad celcius) masukkan larutan developer ke tank dan mulai menghitung. Ingat, waktu sangat kritis! Jangan melamun. Agitasi kontinyu 30 detik pertama sambil sesekali dibentur-benturkan ke lantai untuk menghilangkan gelembung-gelembung didalam larutan. Setelah itu agitasi 5 detik setiap 30 detik selama 6 menit. Rekomendasi dari kotak pembungkus film 7 menit (aku baru tahu setelah filmku jadi :D). Mana yang benar? Masih belum tahu, ujicoba berikutnya akan aku coba 7 menit. 6 menit kurang beberapa detik aku buang developernya. Ada yang bilang bisa dipakai lagi, tapi dengan menambah waktu. Menurut beberapa suhu, hasilnya tidak konsisten. Jadi aku pakai saran mereka, one shoot developer, habis pakai buang.

Stop bath
Setelah developer terbuang, diamkan beberapa detik (10 detikan) dan kemudian masukkan air. Agitasi kontinyu beberapa detik (lupa catatannya euy) dan buang. Ulangi 5 kali atau kira-kira sampai 3 menit.

Fixer
Agitasi kontinyu selama 3 sampai 5 menit. Kalau waktunya kurang hasil negatif akan cepat rusak begitu dikeringkan. Ujicobaku memakai waktu 5 menit.

Pembilasan
Idealnya memakai air yang mengalir, tapi karena tak ada ya langkah-langkahnya sama dengan proses stop-bath. Bedanya waktunya aja. Kira-kira 10 menitan, agitasi selama 10 detik. Dibuku ada rekomendasi lain, tapi belum aku coba. Di pembilasan terakhir masukkan larutan wetting agent. Tanki bisa dibuka untuk celap-celup reel ke dalam larutan. Buang deh. Wetting agent gunanya untuk memudahkan air mengalir diatas permukaan film ketika dikeringkan. Kalau air tidak cepat mengalir bisa membentuk noda-noda diatas film yang susah dihilangkan.

Pengeringan film
Gantung di tempat yang debunya paling tidak banyak beredar :D. Di buku sih ditulis dust free room, susah kalau ukuranku. Yang ada kamar yang belum dipakai, alias gudang sementara :p. Diluar negeri dijual alat untuk menggantung sekaligus mengeringkan film, dijamin bebas debu. Jika sudah kering (benar-benar kering) tinggal dipotong-potong sesuai plastik penyimpan.


Kira-kira begitu deh proses ujicoba semalam. Ribet ya? Memang sih, pertama kali kok kayaknya ribet banget mau mulai dari mana. Tapi dengan semakin sering mencoba akan semakin lancar. Bisa karena biasa. Hasilnya bisa dilihat disini. Jelek? Hehehe, reproduksi dari scannerku yang buruk. Jika dicetak kemudian discan aku yakin akan lebih baik kualitas gambarnya.

Ada masukan?

5 comments:

Eko Andri P said...

uih.. ternyata Fotografi itu lebih susah dari coding dan hacking..
bisa tau total cost yang dikeluarkan berapa ?
tp mah kalo udah hobbi biaya gak jadi masalah ya..

me said...

mahal cuma diawal aja Pak, setelah itu ya biasa lah Pak.
klo dari awal yang aku keluarkan tentu banyak bgt :Dm eh gak dink ... gak sampe sebulan gaji, hahahaha

chemical
developer : 65 rb
fixer : 75 rb
wetting agent : 65 rb (1+200) itungannya murah

alat2
jobo lab kit + 1 rell 35mm : 700rban
cukup beli sekali seumur hidup, kecuali klo rusak

jobo lab kit memang tidak semua digunakan klo hanya untuk proses film, tapi memang disiapkan jika ingin mencetak jg. Dan aku pingin suatu saat nanti bisa nyetak sendiri. Lama-lama males pak instan2 terus (kamera digital), kurang nemu soulnya gitulah

mau gabung jg pak eko? :D

oh ya, film 1 rollnya sekitar 25rb isi 36 (kodak tri-x asa 400)

btw, Pak Eko programmer ya?

Eko Andri P said...

Sebenernya sih.. seneng sama fotografi jg.
cuma karena gak hobbi kali.. cuma sekedarnya aja.

saya bukan programmer, tp bisa programming dikit2.. ya buat bantu2 kerjaan.. plus buat "oprek2" dikit... hehe

Anonymous said...

Halo Mas Andri,
Saya jg senang fotografi. Sekarang pake digital tapi kadang-kadang pengen pakai film lagi.

Pak BW itu susahnya waktu scannya ya. Saya udah coba pake film apa aja hasilnya jelek banget karena IR anti dustnya. Kalau IRnya nggak dinyalain banyak scratchnya di filmnya. Gimana ngatasinnya mas?

Monggo lho visit-visit ke blognya saya :

looselens.blogspot.com

bima bijak said...

tank agitasi klo beli bekas kira2 di mana ya?