Friday, March 24, 2006

Berburu Kualitas di Gang Senggol

Seperti hari Jumat yang sudah-sudah, hari ini masih seperti Jumat minggu lalu. Aku sholat Jumat di areal parkir gedung Jamsostek Gatot Subroto. Sayang, kali ini aku telat, khotib sudah naik mimbar dan membuai jamaah dengan ceramahnya.

Ini dikarenakan aku harus mentransfer script-script yang aku buat ke Kang Henry. Dari awal aku yang membuat, memonitor, memperbaikinya jika ditemukan bug. Dokumentasi yang aku tulis bulan kemarin sebagai formalitas untuk audit tidak bisa diandalkan untuk operasional harian. Ya memang aku tulis alakadarnya. Aku tulis dengan detil pun orang audit tidak akan ngerti :D. Kursus singkat yang tadinya dijadwalkan setelah sholat Jumat dimajukan sebelumnya oleh Kang Henry. Harus cepat, ringkas, padat dan tepat sasaran. Waktu yang ada sangat mepet, karena beliau ada pekerjaan diluar setelah Jumat. Alhasil, penjelasanku pun alakadarnya pula. Pasti Kang Henry masih belum jelas, karena memahami jalan berpikir oranglain tidaklah mudah. Eh, kok aku underestimate dia ya, ... padahal siapa tahu dia orang yang hebat cuma belum terlihat saja, ibaratnya mutiara yang terpendam lumpur sawah :D.

Cukup 2 paragraf saja sebagai pembuka, hehehehe. Kebanyakan ya?

3 ding. Sudah menjadi tradisi bagi kebanyakan kelas pekerja seperti aku menganggap hari Jumat sebagai hari yang santai. Beban kerja serasa semakin ringan karena besoknya menyambut liburan. Untuk mengisi kesantaian hari Jumat, belanja atau makan diluar menjadi alternatif. Lihat saja suasana tempat jajanan yang biasanya tersedia di mall atau ITC, pasti penuh. Tapi tak hanya mall atau ITC yang menggeliat, perekonomian kelas gang senggol juga. Aura hari Jumat membuat pedagang menggelar dagangan sejak pagi. Biasanya hanya pedagang makanan yang banyak bercokol, tapi kali ini pedagang nomaden bermunculan. Maksudnya pedagang-pedagang yang hanya berjualan di hari Jumat dan berpindah-pindah dari satu gang senggol ke gang senggol yang lain.

Sebelum aku lanjutkan, pengertian gang senggol disini adalah jalanan (bisa juga benar-benar gang) yang dimanfaatkan berjualan. Jalanan yang dimanfaatkan merupakan jalanan di belakang kawasan perkantoran. Memang mengganggu kelancaran lalu-lintas karena mereka memakan trotoar sebagai etalase. Akibatnya, para pembeli harus berjejalan di jalan untuk sekedar melihat atau memilih barang yang akan dibeli. Pengguna mobil sering dibuat jengkel karenanya. Bahkan dibeberapa kawasan, gang senggol ini digusur karena memang tidak resmi dan dianggap meresahkan lingkungan disekitarnya.

Barang-barang yang ditawarkan beraneka ragam. Cemilan; peralatan rumah tangga; aksesoris dan spare part racing motor; jam tangan aspal; barang elektronik; sarung handphone; tempat CD; dvd film, musik bahkan software-software pendidikan; buku cerita anak, novel, masak-memasak, dekor rumah asli, sama dengan yang dijual di Gramedia; pakaian dan aksesoris; alat jahit tangan; sampai obat tradisional racikan sendiri. Mereka tak segan-segan mendemokan keunggulan jualannya. Pernah juga disuatu Jumat ada penjual yang menawarkan keterampilan sulap. Dia menjual kartu dan trik sulap. Jangan dibandingkan dengan Dedy Corbuzier, ini kelas gang senggol. Yang lucu tukang jual obat pembesar alat kelamin pria. Dia tak segan-segan menunjukkan kelelakiannya sendiri sebagai bukti keampuhan obat yang dijual. "Lihat, gede kan Pak?", sambil tangan kirinya memegangi 'tugu monas'. Tapi si bapak tidak berani begitu kalau ada cewek yang ikut menyimak presentasi dia. Untung masih punya kemaluan, eh malu.

Hari ini aku ikut berpartisipasi berbelanja. Ada dua item yang aku beli. Rumah busi motor dan penguat antena TV. Yang pertama karena aku termakan bujukrayu dia ketika mendemontrasikan alat yang dijual, tahan air dan tegangan dari coil yang dialirkan ke busi konstan. Busi menghasikan percikan api yang besar untu pembakaran, sehingga tenaga motor juga meningkat dan busi bersih dari kerak. Yang kedua karena sebentar lagi ajang MotoGP akan segera dimulai, sedangkan TV7 dirumahku penerimaannya sangat jelek. Siapa tahu alat ini membantu.

Yang ada dibenakku, darimana barang-barang seperti ini? Apa murni kreasi sendiri, atau impor. Ketika aku berkunjung ke Shenzen, menyaksikan kebesaran China sebagai pemalsu ulung. Semua ditiru dan dijual dengan murah. Jangan ditanya soal kualitas. Mendatangkan barang tersebut ke Indonesia tentu saja mudah. Barang tanpa merek dari Cina tinggal ditempel stiker jadilah barang yang punya merek dan siap jual. Harapanku semoga barang-barang yang dijual tadi hasil kerja kreatif sendiri, bangsa sendiri. Jangan sampai label bangsa konsumtif semakin melekat di negeri ini.

Tertarik untuk belanja di gang senggol, sogo jongkok?

1 comment:

mamakintan said...

apa kabarnya ikat pinggang hush puppiesnya pa? enak dipake? :p

ikat pinggang 15ribuan dari gang senggol cepet banget rusaknya sih..
hehehhe