Tuesday, June 5, 2007

Infinite goes to Puncak

Bergaya sebelum downhill selepas Ngehek2

Woaahhhh, akhirnya bisa juga menjajal Infinite di trek Puncak yang tersohor. Terakhir ke Puncak Desember tahun lalu. Lama ya, hehehe. Habis, kalau sering-sering ke Puncak bisa digergaji sepedaku sama Mama, hehehe, peace ma :).

Sejak beberapa hari sebelum keberangkatan aku selalu cek prakiraan cuaca di Bogor, dan hasilnya selalu hujan. Argghhh, bakalan licin dan agak serem euy kalau jatuh. Bebatuannya itu lho, hiiiii. Makanya Jumat sore kusempatkan berburu pelindung lutut ke OKI. Hasilnya nihil. Bukan nihil sih, cuma saja model yang aku cari sedang kosong. Yang ada modelnya kurang bagus. Ya, boleh dong gaya dikit :D. Di toko perlengkapan motor juga tak jual pelindung lutut. Ya sudah, apa boleh buat, cah polos aja. Sabtu sore Depok diguyur hujan lebat disertai gelegar petir.

Sabtu, 2 Juni 2007 pukul 5 pagi berangkat dari rumah. Kintan masih tidur, Mama tak kalah lelapnya. Sempat berpapasan dengan tetangga yang akan sholat Subuh di masjid. Cank-oot sudah siap di tempat janjian. Berdua menuju Stasiun Depok Lama. Menjelang stasiun ketemu Ahmad. Eh, ndilalah di pojok stasiun sudah menunggu Odie. Odie ini baru pertama kali main offroad, langsung menjajal trek Puncak, sip sip sip. Tak lama menunggu kereta ke Bogor datang. Tapi mahluknya kurang satu nih, Herwin! Sudahlah, kalau telat ya ditinggal. Dikereta kami bertemu Septia dan Bambang. Suhud berangkat naik mobil karena kesiangan. Sampai di Bogor Herwin mengabarkan kalau dia telat dan sedang menunggu kereta berikutnya.

Sesampai di Rindu Alam tak lupa dengan ritual sarapan sebelum genjot. Bener lho, beberapa teman yang tidak sarapan dengan alasan sudah sarapan dirumah mengeluh lemes ketika melahap (baca nuntun sepeda) tanjakan Ngehek2. Jadi, pelajaran pertama : sarapan yang cukup sebelum genjot.

Ok, mari ke menu utama. Seperti cerita sebelumnya, trek Puncak dibuka dengan turunan berbatu yang cukup curam. Biasanya yang pertama kali kesini, apalagi pertama kali mein offroad agak syok. Aku nyelonong ke depan aja. Baru beberapa puluh meter ada yang teriak memanggil. Ups, ... lupa doa bersama :(. Padahal ini adalah pelindung utama ketika bersepeda. Benar saudara-saudara. Akibat takabur pingin ngebut dan lupa berdoa aku jatuh di jurang. Untung saja banyak tumbuhan liar yang menahan. Dua kali pula jatuh dengan selisih waktu tak lebih dari 10 menit. Ada yang salah nih. Perjalanan masih panjang, dan keluarga menunggu dirumah. Pelajaran nomor dua : selalu berdoa dan jangan takabur. Kulihat ada beberapa luka kecil di kaki. Hmmm, pelajaran nomor tiga : segera beli pelindung lengan dan kaki, masih lumayan bukan jatuh di medan berbatu cadas. Suguhan berikutnya adalah turunan curam, licin disertai batu-batu lepas. Alhamdulillah lewat dengan sukses, rem pol maksudnya :D. Odie terjungkal disini. Ban belakang terangkat dan dia terguling kedepan sepeda. Tas punggung yang dia kenakan menjadi pelindung dari cidera. Alhamdulillah. Melihat Odie jatuh, yang lain memilih nuntun sepeda aja :D. Semua istirahat sejenak di pitstop pertama, Gunung Mas.

Targetku kali ini adalah melahap Ngehek1 sampai di pondok seng. Kali ini lumayan. Ada peningkatan dibanding dua kali ke Puncak sebelumnya. Walau ujung-ujungnya nuntun sepeda juga, hehehe. Ada yang dari awal masuk tanjakan sudah pakai jasa porter dan ber-tea walk ria. Lihat saja foto om Indra (teman dari Rawamangun) disamping ini. Lemes habis tea walk. Sepedanya sampai lebih dulu di pondok seng dibanding orangnya, hehehe. Perjalanan tea walk diteruskan sampai ujung Ngehek2, tapi kali ini ditemani Cank-oot dan Septia menjelang ujung Ngehek2.

Cerita selanjutnya adalah downhill, downhill dan downhill. Oh ya, setelah kebun tomat ada persimpangan. Belok kiri tuk menjajal turunan piramid dan jalur lurus tuk turunan panjang yang cocok buat ngebut. Tapi jangan salah, setelah diberi turunan panjang, ternyata jalan masih panjang, harus genjot melalui hutan pinus, jalan makadam kebun teh yang jalannya relatif datar dan sesekali menanjak. Kami mengambil jalur menuju turunan piramid. Turunan ini sebenarnya tidak curam, dan kalapun jatuh masih jauh lebih enak dari tempat Odie jatuh. Medannya berupa tanah dengan sesekali lubang. Nah, lubang inilah yang menyulitkan dan sering menjadi penyebab jatuh. Yang serem bagiku bukan lubangnya, tapi jalannya sudah tertutup rumput yang tinggi. Tapi ya sudahlah, sudah di depan mata, sikat aja bleh! Jujur disini aku kurang puas karena masih pelan-pelan, kurang ngebut gitu lho :D. Kalau tidak salah, pertama kali aku ke puncak aku jatuh disini, dan disoraki ibu-ibu pemetik teh. Aku, diikuti Richard, dia jatuh karena mepet banget denganku. Lagian gak ngambil jarak dulu. Berikutnya Cank-oot dan sukses, diikuti Bambang, Odie dan Ahmad. Odie terjungkal lagi, nyangkut ke pohon teh, hehehe. Kali ini terasa agak sakit, begitu menurut penuturannya. Gambar disebelah kiri adalah turunan piramid yang dimaksud.

Perjalanan ditutup dengan jalur turunan maknyos menuju Gadog. Tapi ditengah jalan aku belok kiri, masuk ke desa Cilicin (kalau gak salah tulis). Jalanan disini benar-benar licin, sesuai namanya. Basah dan berlumut. Hasilnya, jatuh lagi deh. Dibelakangku ada Cank-oot dan Richard. Dua-duanya jatuh juga, hehehe. Bahkan Richard kabarnya mencium mobil yang parkir :D. Karena sudah kelaparan, sebelum pulang makan dulu di restoran Sederhana Gadog. Dari Gadog genjot lagi ke stasiun Bogor, ...capek dehhhh. Sampai rumah sudah hampir gelap, dan disambut Mama dengan "puas???", hahahahahahaha. Terima kasih ya Ma, mmmuach!

Pelajaran nomor empat : segera beli fork tuk menggantikan RST Omega T7. Fork ini kacau beliau dipakai di Puncak, serasa gak pakai suspensi :(.

Nambah satu pelajaran lagi boleh kan? Pelajaran nomor lima : pakai sepeda yang maknyos depan-belakang seperti ini. Sepertinya gak pasaran seperti sepeda ini Ma, hehehehe.

Berikut foto-foto lengkapnya. Foto oleh Cank-oot dan Bambang.

Siap-siap meluncur dari titik start, Rindu Alam


Masuk hutan


Pit stop pertama, Gunung Mas


Genjot di Ngehek1


Dirayu porter cilik di Ngehek1


Ngehek1 menjelang jalan tanah


Istirahat di pondok seng Ngehek1


Berjuang menuju pondok seng di setengah Ngehek2


Mojok nih yeeee (Cank-oot dan Septia)


Bayar porter


Foto-foto dulu di hutan pinus


Ganti ban dalam Septia yang bocor


Turunan Piramid dilihat dari atas. Teman dari Rawamangun memilih menghindari turunan ini karena dia dua kali lewat sini dan hasilnya sekali sukses, sekali jatuh. Karena ragu dia memilih jalan putar yang malah menghasilkan codet tepat dibawah matanya.


Makan siang di resto Sederhana Gadog


Banyak sepeda di gerbong belakang kereta

6 comments:

mamakintan said...

Treknya maknyos ya? Se-maknyos pelajaran nomer 4 dan 5, kekekek...

Ke Puncak sepedanya dirusak2in, trus endingnya ganti sparepart deh, i know youuuuu... :D

Infinite ini lama2 kalo dipreteli satu2 -spt yg dilakukan oleh suamiku selama ini- lama2 juga jadi sepeda Chumba. Tinggal nunggu aja sepertinyaaa...

Andri Wibowo said...

Bener ma boleh beli Chumba? Gak jadi beli Santacruz kok :p

lilies said...

seruuuu...

sikil gosong2, iku sikil opo pantat kuali seeehhh...

gaya nulis , calon si ikal baru neeh...hehhe

Andri Wibowo said...

hahahahaha, aku jg kaget pas lihat foto. Ternyata gosong bgt. Mungkin sudah saatnya pakai celana panjang saat genjot biar gak semakin imut (item mutlak) :D

tapi ya gimana gak gosong, wong tiap minggu sepedaan terpanggang matahari hehehe

Yulia Riani said...

waaa mbak lilis, ngompori aja, pasti bojoku abis ini beli celana sepedaan baru dehh... hihihi...

sepedaan = bau kringet = bikin cucian tambah banyak = kulit gosong. tapi kok ya cinta banget sama hobi itu wahai papa, heraannn... :p

Andri Wibowo said...

ups, ... baju tuk bersepeda warna kombinasi oranye-hitam belum punya nih ma :p