Wednesday, May 16, 2007

Adidas Durango

Tak terasa sudah hampir 6 bulan aku menekuni aktivitas bersepeda. Dan selama itu pula aku hanya memakai sandal gunung atau sepatu seadanya. Di Puncak yang bebatuannya serem (terutama kalau jatuh) aku hanya berbekal sandal gunung. Tentu saja teman sepenggenjotan hanya bisa geleng-geleng dan bilang aku sudah kebal, hehehe. Padahal dalam hati juga khawatir. Beberapa kali main ke toko sepeda dan melihat-lihat sepatu sepeda. Rupanya sepatu sepeda didesain solnya keras, sama sekali tak lentur. Secara umum dari penampakan mereka terbagi dua, model casual dan model sport. Masing-masing model punya desain sol yang berbeda. Untuk yang model sport, gerigi sol terlihat kasar seperti sol sepatu bola. Model casual lebih rapat, dan menurut pengamatan sekilas sepertinya lebih anti selip di trek licin.

Entah angin apa saat itu yang jelas tiba-tiba aku sudah menenteng Adidas Durango warna orange nomor 40 (mama pasti bilang, ciehhhh). Sebelumnya aku tak tahu menahu sepatu ini. Soalnya yang banyak di jual di toko-toko sepeda merek-merek Shimano, 661, Sidi. So, kemungkinan besar sepatu ini gak pasaran lha :D.

Minggu kemarin (13 Mei 2007) sepatu ini resmi launching menemaniku bersepeda. Dan berikut beberapa catatan pertama kali bersepeda dilengkapi sepatu khusus sepeda. Dibanding merek sejuta umat, Shimano, sepatu ini lebih berat. Saat dipakai genjot dengan intensitas tinggi, telapak kaki kanan seperti ada yang gak enak. Bisa jadi karena sepatu masih menyesuaikan dengan bentuk kaki. Sebelah kiri tak ada masalah sama sekali. Sol yang keras membuat penyeluran energi dari kaki ke pedal merata, enak di tanjakan. Desain gerigi sol yang kasar seperti sepatu bola terasa licin saat awal-awal menempel di pedal. Rasanya seperti tidak menempel dengan kuat, ngambang. Aku takut terpeleset dari pedal. Ketika menuntun sepeda di tanjakan trek basah sol sepatu ini terasa licin, kaki sepertinya kurang menapak dibumi seperti saat pakai sandal gunung atau sepatu biasa. Seperti kata pribahasa ala bisa karena biasa.

Saat ini aku masih memakai pedal flat standar bergerigi kasar yang sakit sekali kalau beradu dengan tulang kering. Atau ... saatnya ganti pedal juga?

update :
Pedal sudah diganti dengan Wellgo C17, performa jauh lebih baik daripada pedal sebelumnya. Harga juga sangat terjangkau, cukup 130 ribu rupiah. Dalam hati ingin mencoba pedal Shimano PD-M324. Tapi karena ragu akhirnya diputuskan pakai pedal flat biasa saja, Wellgo C17. Yang jelas dua-duanya sudah pake sealed bearing.

6 comments:

mamakintan said...

ganti lagi??


*sabar... sabarr....

:))

Andri Wibowo said...

iya ma, biar sepatunya nempel dengan enak di pedal :D, dan dengan sendirinya akan nambah akselerasi, kekekekke

Jadi ya beli shock? hehehhe

mamakintan said...

Ohh gitu... (udah biasaa rayuan yang beginian, keball...)

Berhubung ada yg mau beli shock, aku juga mo belanja ah ke toko bahan kue, paling habisnya nggak seberapanya harga shock sih, tapi ya siap2 aja, pokoknya aku reimburst 100%, week... :p

Andri Wibowo said...

hehehe, monggo, pokoknya harus beli tepung ketan hitam dan aku dibuatkan kue dari tepung ketan hitam spt kemaren :D

elvandro said...

Om Andri,
Perkenalkan saya Rendy, newbie dalam dunia MTB. Kebetulan saya sedang mencari sepatu sepeda, dan ketemu blog Om ini. Mau tanya dong, sepatu Adidas Durango ini belinya dimana dan harganya berapa ya? Posisi saya di Bandung, mas. Mohon bantuannya. Thanks.

salam gowes,
Rendy

Ivan Young said...

Belinya dimana ya adidas durango ini?? Pengen nihhhhhh